Pemilihan Legislatif 2019 : Modal Mantan Menteri Bukan Jaminan Lolos Mudah ke DPR

Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, terdapat sejumlah caleg berlatar belakang mantan menteri pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kendati pernah digusur dari Kabinet Kerja, partai politik tetap merilik potensi mereka sebagai calon penghuni Senayan.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  19:33 WIB
Pemilihan Legislatif 2019 : Modal Mantan Menteri Bukan Jaminan Lolos Mudah ke DPR
Dua anggota DPR menghadiri Rapat Paripurna DPR ke-14 masa sidang IV di antara bangku yang tak terisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/3/2019). Rapat paripurna tersebut mengagendakan pembahasan dan pengambilan keputusan Calon Hakim Mahkamah Konstitusi, Pengesahan Perpanjangan Waktu RUU dan Non RUU mengenai Pansus Angket Pelindo, RUU Pertembakauan, RUU Larangan Minuman Beralkohol, dan RUU Daerah Kepulauan. - ANTARA

Kabar24.com, JAKARTA — Bekas anggota Kabinet Kerja terbukti ampuh menggaet pemilih ketika dipasang sebagai calon anggota legislatif, kendati tidak semuanya menuai kemenangan.

Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, terdapat sejumlah caleg berlatar belakang mantan menteri pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kendati pernah digusur dari Kabinet Kerja, partai politik tetap merilik potensi mereka sebagai calon penghuni Senayan.

Mereka adalah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2016—2018 Asman Abnur, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) 2014—2016 Marwan Jafar.

Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2014—2016 Sudirman Said, dan Menteri Perdagangan 2014—2015 Rachmad Gobel.

Di Daerah Pemilihan Kepulauan Riau, Asman didaftarkan sebagai caleg Partai Amanat Nasional (PAN). Hasilnya, Asman meraup 76.021 suara, kontributor terbesar untuk total perolehan PAN sebanyak 101.265 suara.

Berkat perolehan tersebut, PAN mendapatkan jatah satu kursi DPR yang diisi tak lain oleh Asman. Sebelum masuk Kabinet Kerja pada 2016, Asman menghuni DPR periode 2014-2019 dari Dapil Kepri pula. Dibandingkan dengan Pileg 2014, perolehan suara bekas Wakil Wali Kota Batam itu menurun sekitar 20.000 suara.

Meski demikian, Asman tetap mensyukuri perolehan suaranya pada Pileg 2019. Menurut dia, kunci keberhasilan itu adalah sosialisasi kontinyu dengan mendatangi satu persatu desa, kelurahan, rukun warga, hingga rukun tetangga.

“Kalau di desa pendekatannya harus dengan masyarakat langsung. Kalau di kota seperti Batam pendekatannya dengan tokoh dan segala macam,” katanya ketika dihubungi Bisnis.com, Kamis (16/5/2019).

Di Dapil Jawa Tengah III, mantan Mendes PDTT Marwan Jafar meraup 119.416 suara, terbanyak di antara sembilan caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Lantaran partainya mengumpulkan 290.631 suara yang setara dengan satu kursi DPR, Marwan tinggal menunggu penetapan dirinya sebagai legislator Senayan.

Sama dengan Asman, Marwan pun tidak asing dengan tempat pertarungannya dalam Pileg 2019. Pada 2014, dia pun lolos ke DPR dari Dapil Jateng III--untuk kemudian masuk Kabinet Kerja. Bahkan perolehan suara 5 tahun lalu lebih besar yakni sebanyak 123.447 suara.

Status caleg debutan tersemat pada mantan Mendag Rachmad Gobel yang dicalonkan Partai Nasdem di Dapil Gorontalo. Pria berdarah Gorontalo itu berhasil menghimpun 146.067 suara, tertinggi di antara seluruh caleg.

Nasdem akhirnya berhak atas satu kursi DPR yang siap-siap diduduki Rachmad. Perolehan Nasdem sebanyak 169.509 suara mampu menggerus suara Partai Golkar tinggal 194.660 suara. Sebagai pembanding, Golkar mengoleksi 310.790 suara pada Pileg 2014.

Kontras dengan Gobel, mantan Menteri ESDM Sudirman Said yang menjadi caleg debutan di Dapil Jawa Tengah IX tidak mampu melangkah ke Senayan. Pasalnya, Partai Gerindra hanya mendapat jatah satu kursi DPR hasil konversi 269.166 suara parpol oposisi tersebut.

Celakanya, perolehan Sudirman hanya mencapai 81.787 suara, nomor dua di bawah petahana Mohamad Hekal yang meraup 86.337 suara. Alhasil, Hekal berhak menjadi wakil Gerindra di DPR periode 2019-2024.

MAU CAPEK

Asman Abnur mengakui bekas menteri mempunyai modal popularitas tinggi ketika menjadi caleg. Meski demikian, label tersebut tidak serta-merta membuat elektabilitas mereka meningkat.

Menurut Asman, kontestasi yang pernah diikuti terdahulu tidak sama dengan kontestasi periode berikutnya. Sekalipun bekas menteri, seorang caleg harus pandai-pandai menyesuaikan pendekatan kampanye sesuai dengan peta persaingan dan kebutuhan masyarakat termutakhir.

“Kalau warga tidak pernah didatangi mana mau memilih. Strateginya harus tahan capek. Kalau tak tahan capek tak usah nyaleg,” tuturnya.

Ketika kampanye, Asman mengaku kerap mendapatkan pertanyaan mengapa berkontes di Pileg 2019 padahal sudah pernah menjadi menteri. Menjawab konstituennya, dia mengatakan masih ingin berkontribusi untuk kepentingan pemilih dan negara lewat lembaga legislatif.

Masyarakat Kepri, tambah Asman, menginginkan penambahan lapangan kerja. Selain itu, mereka meminta potensi kelautan dan pariwisata Kepri digenjot lagi.

“Alhamdulillah didukung. Saya akan coba perjuangkan apa yang masih dapat banyak kita kerjakan,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dpr, sudirman said, pileg 2019

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top