Isu Politik 22 Mei Pengaruhi Kondisi Ekonomi, Menko Luhut : Semua Masih Terkontrol

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjamin situasi politik jelang pengumuman pemenang Pemilu Serentak 2019 masih bisa dikendalikan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  23:44 WIB
Isu Politik 22 Mei Pengaruhi Kondisi Ekonomi, Menko Luhut : Semua Masih Terkontrol
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan - Bisnis/Aziz Rahardyan

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjamin situasi politik jelang pengumuman pemenang Pemilu Serentak 2019 masih bisa dikendalikan.

Sebelumnya, Luhut mengaku kondisi politik ditambah isu terorisme dan kerusuhan memang bisa memengaruhi perilaku pasar dan kondisi perekonomian.

"Tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Bahwa ada masalah sedikit, yes, tapi semua maaih under control. Amerika saja sekarang presidennya mau di-impeach. Itu semua proses demokrasi pasti bisa kita lewati," ujar Luhut di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2019).

Menurut Luhut, salah satu yang sanggup membuat masyarakat tenang dengan situasi politik dewasa ini, yaitu percaya dengan pemerintah yang masih berjalan.

Selain itu, peelu dipahami bahwa sebenarnya bukan hanya masalah politik saja yang menyebabkan perekonomian Indonesia melemah, tetapi Luhut menjelaskan perang dagang AS-China pun masih berpengaruh.

"Jadi jangan ragu sama pemerintahmu ini. Wong presidennya nggak ada malingnya kok. Nggak ada conflict of interest anaknya istrinya enggak ada. Jadi apa yang salah dengan pemerintah ini, apa yang salah dengan presiden Joko Widodo? Beliau kerja keras, jujur, beliau muslim yang baik," ujarnya.

"Sekarang orang ribut masalah ekonomi. Lha memang trade war ini suatu masalah besar. USD550 miliar ekspornya China ke Amerika yang kena tarif 25 persen. Itu kan dampaknya luar biasa itu. Setara dengan USD150 miliar lebih Amerika menghemat dia punya uang," tambahnya.

Sebab itulah, pemerintah melakukan berbagai langkah, salah satunya mendorong produsen elektronik yang terkena dampak ekspor-impor China ke Amerika atau sebaliknya, membangun produksi di Indonesia.

"Karena tadi ini trade war USD550 miliar ini kita kita identifikasi. Apa saja barang ekspor ke Amerika itu yang bermasalah. Salah satu yang paling besar elektronik hampir USD180 miliar," jelas Luhut.

Luhut menyatakan salah satu perusahaan yang sudah pasti ke Indonesia yaitu Pegatron Corp. sebagai salah satu produsen perangkat komunikasi asal Taiwan. Luhut pun telah bertemu dengan perwakilan perusahaan AS dan China lainnya, demi lebih banyak lagi perusahaan yang mengikuti jejak Pegatron membuka produksi di Indonesia.

"Kita bicara sama bank, seperti Standar Chatered, sama orang Tiongkok sendiri. Supaya mereka relokasi ke Indonesia. Kita juga bilang ke Amerika yang sama. Mereka mau. Jadi kita melihat keuntungan untuk Indonesia banyak," ungkap Luhut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top