TKN Ungkap Kejanggalan Tuduhan Kecurangan dari Kubu Prabowo-Sandi

Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, mengungkapkan kejanggalan atas data tuduhan kecurangan yang diungkap pihak BPN Prabowo-Sandiaga.
Aziz Rahardyan | 16 Mei 2019 13:35 WIB
Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Arya Sinulingga - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, mengungkapkan kejanggalan atas data tuduhan kecurangan yang diungkap pihak BPN Prabowo-Sandiaga.

Arya juga menantang pihak BPN berani hadir dalam rapat pleno di KPU.

"Sekarang kami tantang kalau benar 02 punya C1 asli dan mengatakan ada kecurangan, kami tantang di KPU. Ikut pleno di KPU. Kita tantang di pleno berani enggak? Kalau tidak berani, berarti data mereka bodong," ujar Arya di Posko Cemara TKN Jokowi-Ma'ruf, Kamis (16/5/2019).

Arya memberi contoh, pertama terkait tuduhan penggelembungan DPT di Jawa Timur ketika Pilpres dibandingkan Pilkada. Padahal, fakta sebenarnya yang terjadi hanyalah kenaikan tingkat partisipasi pemilih.

Ketika Pilkada Jatim, jumlah DPT yang tercatat memang hanya 30.155.719 dengan total pemilih sah 20.973.302 (tingkat partisipasi 69,55 persen). Ketika Pilpres, jumlah DPT yang tercatat yaitu 30.912.994 dengan total pemilih sah 24.730.395 (tingkat partisipasi 80  persen).

"Kan semua mengakui tingkat partisipasi sangat tinggi. Ya naik pasti. Dulu 20 juta sekarang 24 juta. Wajar naik karena tingkat partisipasi tinggi. Jadi bukan penggelembungan suara," ujar Arya.

Arya mempertanyakan mengapa hanya Jawa Timur yang dipermasalahkan. Padahal, banyak pula provinsi lain yang tercatat mengalami kenaikan jumlah pemilih di Pilpres dibandingkan ketika Pilkada.

"Di Kota Medan tahu enggak ada berapa [tingkat partisipasi pemilih] waktu Pilkada Medan? 26 persen yang datang. Sekarang naik hampir 80 persen. Yang menang siapa? 02. Nah, itu mereka enggak permasalahkan. Di Jawa Barat ada juga kenaikan. Tapi mereka abaikan itu, karena mereka menang," ujar Arya.

"Daerah Sumatra Barat juga gitu, tingkat partisipasnya naik, itu pun tidak mereka sebutkan. Di Sumatra Selatan juga naik, itu pun tidak mereka sebutkan. Di Riau pun begitu. Itu kenapa enggak dibilang sebagai data siluman? Karena mereka menang. Ini comot datanya suka-suka gitu, loh," tambah Arya.

Selain itu, ada tuduhan TPS siluman, yaitu TPS 13 Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Dalam TPS tersebut, memang ada yang aneh, sebab orang-orang yang terdaftar di dalamnya memiliki tanggal lahir yang sama, yaitu 1 Januari 1946.

"Lucunya, ternyata di TPS tersebut yang menang adalah 02. Jadi yang siluman siapa? Ini katanya TPS siluman, Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jabar. Kami cek TPS-nya TPS 13 di Situng KPU. Ternyata yang menang 02. Kalau ini mengada-ada, kok menguntungkan 02?" jelas Arya.

"Ini makin dibongkar datanya makin lucu. Lama-lama kita bilang dagelan juga ini. Karena dari tuduhan-tuduhan mereka, ternyata faktanya lucu," tutup Arya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup