Universitas Brawijaya Berikan Kemudahan Bagi Calon Mahasiswa Tidak Mampu

Universitas Brawijaya memberikan berbagai kemudahan kepada calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi untuk dapat kuliah di kampus tersebut.
Choirul Anam | 15 Mei 2019 16:47 WIB
Rektor Universitas Brawijaya Prof Nuhfil Hanani (kanan) saat memberi keterangan kepada wartawan di Malang, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG—Universitas Brawijaya memberikan berbagai kemudahan kepada calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi untuk dapat kuliah di kampus tersebut.

Rektor UB Prof Nuhfil Hanani mengatakan tahun ini perguruan tinggi negeri tersebut akan menerima 13.215 mahasiswa baru melalui jalur Selekesi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Seleksi Mandiri (SMUB).

“Sebagai bentuk komitmen UB terhadap peningkatan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia, sekaligus sebagai salah satu langkah nyata peningkatan dan perluasan akses pendidikan tinggi, maka kami memberikan kemudahan bagi mahasiswa baru yang mengalami kendala terkait administrasi keuangan,” kata Nuhfil di Malang, Rabu (15/5/2019).

Kebijakan dimaksud yakni berupa penundaan, penurunan kategori, keringanan, pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), Sumbangan Pengembangan Fasilitas Pendidikan (SPFP) bagi mahasiswa program pendidikan vokasi dan program sarjana.

Pengajuan terhadap pengurangan, penurunan, keringanan, pembebasan UKT/SPP/SPFP itu paling lambat delapan hari sebelum batas akhir pembatyaran.

“Untuk mahasiswa baru, jika permohonan disetujui, maka pemohon diwajibkan membayar paling sedikit 25% dari nominal yang ditentukan,” ucapnya.

Penetapan penerimaan atau penolakan atas permohonan penundaan, penurunan, keringanan dan pembebasan UKT/SPP/SPFP tersebut dilakukan 5 hari sebelum jadwal pembayaran berakhir oleh Dekan atau Koordinator Program Studi di Luar Kampus UB Kediri.

Pertimbanganan penundaan, penurunan, keringanan dan pembebasan UKT/SPP/SPFP antara lain orang tua/wali meninggal dunia, pensiun, mengalami pemutusan hubungan kerja, dan mengalami sakit permanen sehingga tidak dapat bekerja.

Khusus untuk pertimbangan pemberian keringan dan pembebasan UKT/SPP antara lain orang tua/wali terdampak bencana di daerah domisili atau tempat asal usaha orang tua/wali bangkrut atau dinyatakan pailit, mahasiswa akan menempuh ujian tugas akhir satu bulan sejak dimulainya semester baru, telah sampai pada tahap ujian tugas akhir, telah menyelesaikan revisi dan menunggu jadwal yudisium.

Khusus untuk pertimbangan pembebasan UKT/SPP antara lain telah menempuh ujian akhir skripsi dan telah menyelesaikan revisi serta sedang menunggu jadwal yudisium, terdampak bencana di daerah domisili orang tua.

Menurut Rektor, cara lain agar mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi tetap bisa terus kuliah di UB yakni dengan adanya pemberian beasiswa.

Dari 63.000 mahasiswa UB, ada 10 persen penerima beasiswa BIDIKMISI, lainnya  beasiswa dari instansi lain, termasuk pemda. Mahasiswa penerima beasiswa dan lainnya mencapai 20 persen lebih.

Khusus untuk penerima beasiswa BIDIKMISI dan mahasiswa yang dikenakan biaya kuliah Rp500.000/semester dan Rp1 juta/semester angkanya sudah mencapai 30,22 persen.

“Jadi kami memberikan seluas-luasnya kepada calon mahasiswa, termasuk mereka yang tidak mampu, untuk tetap dapat melanjutkan kuliah ke UB,” ujarnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
universitas brawijaya

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup