Kombinasikan Wakaf dan Sukuk, BWI Harap Masyarakat Makin Tertarik Jadi Investor Sosial

Badan Wakaf Indonesia (BWI) terus berinovasi memperbaiki kinerja demi wakaf Indonesia yang makin produktif, serta mudah dan menarik buat masyarakat.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  19:08 WIB
Kombinasikan Wakaf dan Sukuk, BWI Harap Masyarakat Makin Tertarik Jadi Investor Sosial
Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh - Bisnis/Aziz Rahardyan

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Wakaf Indonesia (BWI) terus berinovasi memperbaiki kinerja demi wakaf Indonesia yang makin produktif, serta mudah dan menarik buat masyarakat.

Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh menyatakan langkah awalnya yaitu dengan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

"Pengelola zakat atau nadhir itu harus busineesman, harus entrepreneur, harus profesional, supaya harta wakaf tadi bisa beranak," jelas Nuh dalam acara Media Gathering dan Bincang Wakaf Produkti di Jakarta pada Selasa (14/5/2019).

"Kalau tidak beranak memang boleh dibagikan, tapi kalau pengelolanya nggak profesional dan tidak punya sense of business,  harta wakaf ya, tetap segitu-gitu saja," tambahnya.

Hingga kini, BWI telah menggandeng Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, hingga menghasilkan program Wakaf Linked Sukuk berbasis wakaf uang kas yang telah diluncurkan pada Desember 2018.

Nuh berharap Wakaf Linked Sukuk mampu mencerahkan masyarakat bahwa aset wakaf nantinya bukan hanya bisa menghasilkan income saja, tapi ikut berperan membantu negara sebab diinvestasikan ke Sukuk Negara.

Selain itu, wakaf ini pun bersifat temporer. Artinya, wakif bisa mendapatkan kembali uang yang diwakafkan tersebut sebesar 90 persen (10 persen biaya pengelolaan) dalam waktu tiga hingga lima tahun.

Keuntungan kupon sukuk sekitar 8 persen itulah nantinya yang akan digunakan untuk kebutuhan sosial. Sehingga Nuh mengungkap inilah awal mula konsep wakif yang disebut Investor Sosial.

"Kita akan perbesar terus sampai nanti kalau [pemerintah] bangun jalan tol, tak perlu lagi pakai utang, tapi cukup dari aset wakaf," ungkap pria yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2009-2014 ini. 

Terus Berinovasi

Kepala Divisi Pengelolaan dan Pemberdayaan Wakaf BWI JE Robbyantono menyatakan bahwa Wakaf Linked Sukuk masih membutuhkan sosialisasi agar target dana kelolaan sebesar Rp50 miliar tercapai.

Selain itu, BWI masih akan terus berinovasi, tidak akan berhenti sampai di sana saja. Sebab, banyak jalan untuk mempermudah masyarakat membangun ekonomi lewat zakat.

Misalnya bekerjasama dengan startup jual-beli online, kombinasi wakaf dengan fintech, bekerjasama dengan provider agar bonus pulsa pelanggan bisa diwakafkan.

Dalam waktu dekat, BWI berencana mendorong kerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk membenahi sertifikat sebanyak 430.000 hektare tanah wakaf, serta memaksimalkan izin produktivitasnya sebagai lahan komersial.

Selain itu, BWI akan bekerjasama dengan BUMN dan OJK untuk mengombinasi program lain, yaitu Sukuk Linked Wakaf.

"Kalau Sukuk Linked Wakaf, perusahaan atau sebuah lembaga nadhir menerbitkan sukuk untuk membangun bangunan di atas tanah wakaf. Bedanya itu kebalikan [Wakaf Linked Sukuk]. Jadi tujuan sukuknya komersil, tetapi hasilnya menjadi aset wakaf," jelas Robby.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wakaf

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top