Peringatkan Bahayanya, Sekjen PBB Minta Negara-negara di Dunia Tak Abaikan Perubahan Iklim

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan negara-negara di dunia tidak mengambil kebijakan yang cukup untuk menahan kenaikan suhu secara global.
Annisa Margrit | 12 Mei 2019 14:48 WIB
Foto udara hutan Cikole di dekat Bandung, Indonesia, Selasa (6/11/2018). - Antara/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan negara-negara di dunia tidak melakukan hal yang cukup untuk menahan kenaikan suhu secara global di level 1,5 persen.
 
Reuters melansir Minggu (12/5/2019), dia menyampaikan peringatan atas bahaya mengabaikan perubahan iklim.
 
"Perubahan iklim berjalan lebih cepat dari kita.. 4 tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas," ujarnya ketika berbicara kepada media di Auckland, Selandia Baru bersama Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern.

Guterres tiba di Negeri Kiwi pada Minggu (12/5) sebagai bagian dari kunjungannya ke negara-negara Pasifik dalam kampanye perubahan iklim. Selanjutnya, dia akan mengunjungi Tuvalu, Vanuatu, dan Fiji.

Pada 2015, melalui Persetujuan Paris (The Paris Agreement), negara-negara di dunia sempat berkomitmen menahan kenaikan suhu global yang sedang menuju 1,5 derajat Celcius. Indonesia termasuk di dalamnya.

Pernyataan itu dikeluarkannya menyusul dirilisnya laporan PBB tentang ancaman punahnya 1 juta spesies tumbuhan dan hewan di seluruh dunia, pekan lalu. Seperti dilansir dari The Washington Post, laporan itu merupakan hasil riset yang dilakukan hampir 150 peneliti dari 50 negara selama 3 tahun. 
 
Menurut laporan yang disusun oleh Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, sebuah panel PBB yang beranggotakan 132 negara, punahnya tumbuhan dan hewan akan berpengaruh terhadap aktivitas manusia. Termasuk, dalam hal keamanan pangan dan ketersediaan air bersih, serta kesehatan manusia.
 
Ketua panel tersebut, Robert Watson, mengungkapkan bahwa menyusutnya keragaman tanaman dan hewan akan berdampak negatif terhadap perekonomian, kehidupan sehari-hari, keamanan pangan, kesehatan, dan kualitas hidup secara global.
 
Panel itu mendesak para pemimpin negara-negara di dunia untuk melakukan kebijakan mengatasi ancaman ini, termasuk melawan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Menghangatnya iklim global adalah pendorong utama yang kemudian memperburuk pengaruh overfishing, penggunaan pestisida yang berlebihan, polusi, dan urbanisasi manusia di alam.
 
Ekosistem laut sudah menunjukkan penurunan seiring dengan naiknya suhu hingga 2 derajat Celcius di atas level sebelum era industri. Terumbu karang yang terdampak menghangatnya laut dan polusi di laut bisa berpengaruh negatif terhadap industri perikanan dan lebih lanjut membuat masyarakat yang tinggal di pesisir kehilangan sumber protein.
 
"Ketika [kenaikannya] sampai di 2 derajat Celcius, model yang kami gunakan menunjukkan bahwa hanya 1 persen yang bisa selamat. Mari kita bicara jujur. Kita tidak sedang menuju 2 derajat, kita sedang menuju 3-3,5 derajat Celcius," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top