Facebook Dituduh Hasilkan Konten Ekstrimis Secara Otomatis

Facebook dituduh sebagai platform "penghasil otomatis" (auto-generating) konten ekstrimis, termasuk video perayaan jihadis dan halaman bisnis untuk Al-Qaeda.
Denis Riantiza Meilanova | 10 Mei 2019 07:58 WIB
Logo Facebook di kantor Facebook Indonesia - Bisnis/Dhiany Nadya Utami

Bisnis.com, JAKARTA--Facebook dituduh sebagai platform "penghasil otomatis" (auto-generating) konten ekstrimis, termasuk video perayaan jihadis dan halaman bisnis untuk Al-Qaeda.

Mengutip BBC News dan The Sun, Jumat (10/5/2019), konten tersebut ditemukan oleh seorang pengungkap rahasia (whistle blower) yang mengajukan pengaduan resmi kepada regulator Amerika serikat.

Whistle blower tersebut melakukan penelitian selama 5 bulan terakhir dan memonitor laman 3.000 orang yang menyukai atau terhubung dengan organisasi yang masuk daftar kelompok teroris Pemerintah Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan, kelompok seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Al-Qaeda secara terbuka aktif di jejaring sosial tersebut.

Selain itu, ditemukan bahwa alat-alat Facebook sendiri secara otomatis membuat konten baru untuk kelompok terlarang dengan memproduksi video perayaan dan kenangan mereka ketika halaman-halaman tersebut cukup banyak dilihat atau disukai atau juga telah aktif selama beberapa bulan.

Menurut pengaduan yang diajukan whistle blower, halaman bisnis lokal Al-Qaeda yang dihasilkan oleh alat Facebook memiliki 7.410 like. Hal itu dinilai memberikan data berharga pada kelompok tersebut untuk melakukan perekrutan. Alogaritma Facebook mengisi halaman tersebut dengan deskripsi pekerjaan yang pengguna gunakan pada profil mereka, termasuk menyalin gambar, branding, dan bendera yang digunakan kelompok ekstrimis tersebut.

Konten serupa juga secara otomatis dihasilkan untuk kelompok Nazi dan supremasi kulit putih yang aktif di Facebook.

Keluhan atas hal tersebut telah diajukan ke US Securities and Exchange Commission, menuduh Facebook telah menyesatkan pemegang saham dengan mengklaim telah menghapus konten ekstremis sementara nyatanya membiarkan konten itu tetap ada di situs mereka.

Sementara itu, Facebook menyatakan upaya mereka dalam menghapus konten ekstrimis sudah lebih baik, tetapi sistem mereka belum sempurna.

"Setelah melakukan investasi besar, kami mendeteksi dan menghapus konten terorisme pada tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2 tahun lalu," ujar Facebook dalam sebuah pernyataan.

"Kami tidak mengklaim menemukan segalanya dan kami tetap waspada dalam upaya kami melawan kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia."

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
facebook

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup