Belajar Sportif dari Liga Champions, Erick Thohir : Harus Bisa Menerima Kekalahan

Erick Thohir mencontohkan perhelatan Liga Champion 2019 saat kedua tim yang memasuki babak final, sama-sama memberikan kejutan kepada para penonton.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  11:39 WIB
Belajar Sportif dari Liga Champions, Erick Thohir : Harus Bisa Menerima Kekalahan
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin, Erick Thohir berdiskusi dengan awak redaksi saat berkunjung ke Kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir mengingatkan bahwa masyarakat bisa belajar menerima kekalahan, apabila mau mendengarkan hati kecil masing-masing.

Dalam hal ini, Erick mencontohkan perhelatan Liga Champion 2019 saat kedua tim yang memasuki babak final, sama-sama memberikan kejutan kepada para penonton.

Sebagai contoh, saat Liverpool kalah 0-3 kontra Barcelona di laga tandang. Tetapi, di laga leg kedua, dibantu 'angkernya stadion Anfield' kandang Liverpool, tim yang dijuluki The Reds itu berhasil membalik keadaan hingga menang 4-0.

Walaupun, gol terakhir Liverpool sempat membuat polemik, sebab memanfaatkan ketidaksiapan pemain Barcelona menerima tendangan sudut.

Sedangkan Tottenham Hotspur dalam laga Kamis (9/5/2019) dini hari, sebelumnya kalah 0-1 dari Ajax Amsterdam. Tetapi, tim berjuluk Lili Putih ini berhasil membalas kekalahan menjadi 3-2, sehingga berhak lolos ke final dengan keunggulan gol tandang. 

Sehingga, Tottenham nantinya akan berhadapan dengan Liverpool yang sama-sama merupakan tim asal Liga Premier Inggris di final Liga Champion. 

Oleh sebab itu, Erick sebelumnya juga tak percaya tim dukungannya kalah, padahal telah memulai laga leg pertama dengan meyakinkan.

"Saya pendukung Barcelona, lalu saya bilang, oh, enggak. Salah satu gol Liverpool sudah sah, sedang pertandingan sudah selesai," ujar Erick ketika ditemui di War Room TKN, Rabu (4/5/2019) malam.

Menurutnya, peristiwa di dunia sepak bola itu bisa diadopsi di demokrasi.

"Nah, hal-hal ini bagian dari demokrasi. Yang saya yakin, di hati kecil semua pemimpin bangsa atau yang dinamakan tokoh-tokoh, pasti juga punya hati kecil yang berbicara," ujar mantan Presiden Klub Inter Milan itu.

Menurut Erick, ketika pertandingan telah selesai, para tokoh seharusnya bisa mendengar hati kecil mereka.

Dia memberi gambaran dari hasil hitung cepat dan hasil penghitungan sementara berdasarkan data C1 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), kenaikan selisih suara petahana Joko Widodo kontra Prabowo Subianto pada Pilpres kali ini, menunjukkan bahwa Jokowi masih yang terbaik buat Indonesia.

"Kalau dulu 2014 bedanya [selisih suara] empat sampai lima juta, sekarang bedanya tiga belas sampai lima belas juta. Kalau kita lihat dari persentase suara, yang tadinya [selisih] lima-enam persen, sekarang kan 10% hingga 12 %," ujar Erick.

"Ini kan suatu tambahan suara yang hampir tiga kali lipat. Menunjukkan bahwa memang pada saat ini, pilihan saat ini yang terbaik masih pak Jokowi," tambahnya.

Sebelumnya, Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Hasto Kristiyanto pun menyatakan hal senada dengan Erick. Hasto menekankan bahwa kontestasi politik juga membutuhkan sportivitas layaknya olahraga.

"Mari belajar dari sportivitas olahraga. Jangan karena kalah, lalu menyalahkan wasit dan panitia. Barcelona tak menghasut penonton hanya karena kalah untuk melakukan perlawanan terbuka. Walau tersingkir, Barcelona bisa menerima dengan baik karena ada nilai sportivitas itu," ujar Hasto.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, liga champions, Barcelona, prabowo subianto, erick thohir

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top