'Merayakan' Hari Buku Sedunia di Tengah Rendahnya Tingkat Literasi Indonesia

Tingkat literasi Indonesia disebut sebagai salah satu yang terendah di dunia. Hal ini turut menunjukkan minimnya kebiasaan membaca dan menulis.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 23 April 2019  |  16:25 WIB
'Merayakan' Hari Buku Sedunia di Tengah Rendahnya Tingkat Literasi Indonesia
Penjual buku, Yanto (60), menunggu pembeli buku bekas sambil memainkan gawainya di Jombang, Jawa Timur, Selasa (19/2/2019). - ANTARA/Syaiful Arif

Bisnis.com, JAKARTA – Sabtu sore sekitar tiga pekan lalu, sebuah toko bernuansa kuning di bagian dalam Pasar Santa, Jakarta terlihat lebih ramai dari biasanya.

Sebagian orang bahkan duduk dan berdiri di bagian luarnya. Meski toko buku—yang sebenarnya hasil gabungan beberapa kios—itu baru beberapa tahun berdiri, tapi hampir selalu ramai dikunjungi.

Post, nama toko buku tersebut, juga cukup sering menggelar acara. Salah satunya adalah obrolan buku “Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai” dan “Kota & Kuda dalam Cerita”, masing-masing karya Raudal Tanjung Banua dan Sunlie Thomas Alexander, yang digelar akhir pekan itu.

Post bukanlah satu-satunya toko buku yang ada di Pasar Santa, karena ada pula Transit Bookstore di pasar yang sama—yang baru dibuka pada Desember 2018. 

Kehadiran toko-toko buku independen ini jadi semacam harapan bagi para pecinta buku di Indonesia, terutama dalam momen Hari Buku Sedunia yang diperingati tiap 23 April. Selain menawarkan buku-buku yang mungkin tidak akan ditemui di jaringan toko buku besar, juga menunjukkan bahwa sebenarnya ada orang-orang yang memang sangat senang membaca.

Pengunjung melihat buku-buku yang dijual pada pameran buku \"The Big Bad Wolf Book Sale\" 2016 di JX International, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/10)./ANTARA

Nyatanya, membaca memang belum menjadi kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal itu terbukti dari rendahnya peringkat Indonesia dalam daftar tingkat literasi negara-negara di dunia, termasuk laporan World's Most Literate Nations yang dikeluarkan Central Connecticut State University (CCSU).

Riset CCSU memotret lima indikator yang dianggap penting dalam kegiatan membaca, yakni perpustakaan, koran, input pendidikan, output pendidikan, dan ketersediaan komputer. Dalam daftar tersebut, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang diriset.

Artinya, kebiasaan membaca dan menulis masyarakat Indonesia tergolong rendah.

Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia juga terlihat dari penelitian terakhir Program for International Student Assessment (PISA) pada 2015. Penelitian PISA menunjukkan Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara yang diteliti.

Mengapa Tingkat Literasi Masyarakat Rendah?
Rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia disinyalir bukan tanpa sebab. Aktivitas membaca yang masih dianggap sebagai hobi di waktu senggang menjadi salah satu alasan jarangnya masyarakat Indonesia melakukan kegiatan itu.

Pendiri penerbit independen Marjin Kiri Ronny Agustinus mengatakan anggapan masyarakat bahwa membaca adalah aktivitas di waktu senggang membuat kegiatan itu tak sering dilakukan. Hal itu diperparah dengan kurang adanya “paksaan” dari pemerintah agar masyarakat membaca.

“Kurikulum yang mengharuskan baca (comprehension, tukar pikiran, pencarian rujukan) bukan hafalan atau multiple choice. Kurikulum yang menempatkan humaniora atau sastra sebagai bagian penting,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/4/2019).

Sejumlah siswa belajar bersama seusai mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (1/4/2019)./ANTARA-Rafiuddin Abdul Rahman

Ronny mencontohkan di beberapa negara dengan budaya literasi kuat, terlihat jelas pentingnya posisi buku bagi masyarakat. Salah satu buktinya, tak jarang iklan buku atau karya sastra baru di negara-negara itu dipajang pada layar berukuran besar.

Pemajangan iklan karya sastra di billboard atau tempat-tempat strategis jarang ditemukan di Indonesia. Di sini, masyarakat umumnya mengetahui terbitan suatu buku atau karya sastra ketika berkunjung ke toko buku atau melalui media sosial.

Pendapat lain dikemukakan Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dadang Sunendar. Dia menyebut pembiasaan untuk membaca harusnya dimulai sejak kecil, setelah orang terkait bisa membaca dan mengenal huruf.

“Harus diluruskan bahwa seseorang mulai menyukai membaca tentu saja ketika dia sudah mulai memahami huruf-huruf dan sebagainya. Setelah itu kan kemungkinan dia menyukai bacaannya, kemudian tertarik dan meneruskan kebiasaan yang baik ini,” tutur Dadang kepada Bisnis.

Untuk menumbuhkembangkan minat baca, peran utama dianggap ada pada keluarga. Kebiasaan keluarga membaca di waktu senggang, berlangganan koran atau bahan bacaan, serta mengajak diskusi anak dapat merangsang keinginan dan kebiasaan orang untuk membaca sejak dini.

Dia memandang semua kegiatan membaca dan menulis di keluarga dapat memotivasi anak untuk gemar membaca. Jika sejak kecil anak sudah gemar membaca, maka kebiasaan itu diyakini terjaga hingga dia dewasa.

Untuk menumbuhkan budaya membaca, Kemendikbud memiliki program bernama Gerakan Literasi Nasional yang dimulai sejak 2016. Gerakan Literasi Nasional dijalankan sebagai implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

“Tujuannya yakni ingin menanamkan kesukaan [masyarakat] pada kegiatan membaca. Tujuan lainnya untuk mencapai tingkat kemampuan membaca yang baik. Kalau tingkat membaca masyarakat Indonesia baik, kebiasaan membaca baik, harapannya kemampuannya baik, itu akan berpengaruh pada peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM), harus literat semuanya,” papar Dadang.

Meski begitu, dia tidak setuju jika ada anggapan bahwa masyarakat Indonesia rendah tingkat literasinya. Dia menyatakan kondisi toko buku yang kerap dipadati pengunjung saat ini, menunjukkan semakin tingginya tingkat literasi masyarakat.

Bukti lain adalah bertambahnya jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia, saat ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan Kemendikbud dari Komite Buku Nasional, ada 50.000 buku yang dikeluarkan di Indonesia sepanjang 2018.

“Lebih dari 50.000 buku setahun itu di atas jumlah buku baru yang dikeluarkan di Asean. Nah, kalau melihat ini kita cukup optimistis. Tapi apakah ini sudah bagus? Belum kami akui,” ucap Dadang.

Warga membaca buku yang dipinjam dari mobil perpustakaan keliling di Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, Minggu (10/2/2019). Perpustakaan keliling yang difasilitasi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kudus itu guna meningkatkan minat membaca masyarakat./ANTARA-Yusuf Nugroho

Perpustakaan dan Kebiasaan Membaca
Salah satu faktor yang mempengaruhi rendah atau tingginya minat membaca adalah ketersediaan tempat untuk melakukan aktivitas itu. Tempat untuk membaca dengan tenang biasa terdapat di perpustakaan.

Berdasarkan hasil Sensus Perpustakaan yang dilakukan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) 2018, jumlah perpustakaan secara nasional sebanyak 164.610. Ratusan ribu perpustakaan itu tersebar di 34 provinsi.

Ada 42.460 perpustakaan umum, 6.552 perpustakaan khusus, 113.541 perpustakaan sekolah/madrasah, dan 2.057 perpustakaan Perguruan Tinggi. Sebanyak 47,89% perpustakaan berada di Jawa, 23,55% di Sumatra, dan 11,62% di Sulawesi.

Namun, apakah hal ini sudah cukup untuk memfasilitasi keinginan membaca masyarakat?

Jika dihitung berdasarkan formula The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), maka rasio ketersediaan perpustakaan di Indonesia masuk kategori kurang mencukupi. Koleksi buku di perpustakaan di Indonesia juga belum mencukupi.

“Rasio ketercukupan koleksi perpustakaan berdasarkan IFLA/Unesco dengan rumusan jumlah koleksi dibagi dua kali jumlah penduduk. Jumlah koleksi nasional tercatat 16.077.296, sehingga rasio ketercukupan koleksi perpustakaan 0,06213. Maka dapat dikatakan rasio ketercukupan jumlah koleksi perpustakaan kurang mencukupi,” tulis hasil sensus PNRI.

Dari jumlah koleksi itu, tingkat buku atau bahan bacaan yang dipinjam secara nasional sebesar 32,05%. Bahan bacaan di bidang Sastra, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Teknologi menjadi koleksi yang paling banyak dipinjam dari perpustakaan di Indonesia.

PNRI juga mengungkapkan tingkat kunjungan perpustakaan di Indonesia jauh dari ideal lantaran hanya 59.483 orang, atau 0,02% penduduk, yang mengunjungi perpustakaan per hari.

Kemudian, secara nasional ada 18,42% atau Rp597,01 miliar dana dialokasikan sebagai anggaran pengembangan perpustakaan dari APBD anggaran dinas setempat.

Setiap tahunnya, PNRI menganggarkan dana Rp177,81 miliar untuk Pengembangan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca. Jika dihitung, rata-rata anggaran untuk mengembangkan perpustakaan dan budaya membaca per orang di Indonesia adalah Rp2.938/penduduk.

Di sisi lain, membaca juga sebenarnya mempunyai beragam manfaat bagi pembacanya. Berdasarkan sebuah artikel di situs lifehack.org, ada 10 manfaat yang dibawa buku untuk pembacanya.

Warga mengunjungi stan perpustakaan Bank Indonesia Jawa Barat pada acara Festival Literasi Jawa Barat 2019 di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/4/2019)./ANTARA-Novrian Arbi

Pertama, buku disebut bisa menstimulus mental pembaca. Membaca secara rutin dapat mengurangi resiko seseorang terkena penyakit Alzheimer’s dan Dementia.

Kedua, membaca dapat mengurangi stres. Proses membaca juga dapat menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman bahasa pembacanya.

Ketiga, membaca dapat menambah pengetahuan, yang menjadi aset utama seseorang. Keempat, menambah arsip kosa kata dan mempermudah dalam mempelajari bahasa asing.

Kelima, membaca bisa meningkatkan kemampuan seseorang mengingat. Keenam, daya analisa seseorang disebut bisa meningkat jika rutin membaca.

Ketujuh, membaca bisa meningkatkan daya konsentrasi dan fokus. Kedelapan, membaca juga bisa membuat orang terlatih kemampuan menulisnya.

Kesembilan, membaca dapat membawa ketenangan, apalagi jika bahan bacaan yang dikonsumsi adalah buku atau tulisan seputar kehidupan spiritual. Terakhir, membaca dapat menghibur diri dan bisa menjadi sarana hiburan paling praktis karena bisa dilakukan di mana saja.

Jika kata orang “buku adalah jendela dunia”, maka pada Hari Buku Sedunia yang jatuh pada hari ini, sudah seberapa besarkah jendela yang dibangun masyarakat Indonesia?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku, fokus, literasi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top