OPINI: Rakyat Adalah Pemenang Sejati Pemilu

Rakyatlah yang memang seharusnya dimenangkan, karena pemilu ini adalah forum rakyat, forum tertinggi kedaulatan bangsa dan negara. Vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bisnis.com, JAKARTA – “Saya tak pernah kalah. Kalau tidak menang, saya belajar.“ (Nelson Mandela).

Banyak ucapan serupa yang dilontarkan oleh banyak bintang sepakbola, khususnya para striker yang bertugas mencetak gol mengenai betapa pentingnya tujuan tim.

Raheem Sterling dari Liverpool, Inggris atau Lionel Messi asal Argentina yang merumput di Barcelona, menyatakan, “Tentu penting bagi saya mencetak gol. Itu tanggungjawab saya sebagai pemain penyerang . Tapi yang lebih penting adalah kemenangan tim. Saya sangat senang bila tim menang meskipun saya tak membuat gol.“

Ucapan para bintang sepakbola itu adalah suatu ungkapan dari mereka yang layak dimuliakan. Mereka melepaskan ego untuk kepentingan yang lebih besar. Suatu pilihan sikap yang menunjukkan kematangan diri dan keikhlasan memberi.

Tonny seorang eksekutif yang handal, memimpin suatu perusahaan besar. Dia dikenal sebagai pebisnis bertangan dingin. Sukses dalam mengelola perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya. Memiliki seorang kawan bernama Iwan, sesama eksekutif di grup perusahaan yang sama.

Banyak yang mengenal mereka sebagai dua orang dengan watak dan kepribadian yang bertolak belakang.

Tonny adalah model pekerja keras dan pintar yang tak banyak bergaya. Adapun Iwan lebih banyak lagak meskipun tak semumpuni Tonny dalam mengelola perusahaan.

Iwan, dengan segala lagak dan polahnya, oleh masyarakat yang tak terlalu mengenal mereka, dipandang lebih bossy ketimbang Tonny. Tonny jauh dari populer dibandingkan dengan Iwan.

Kalau ditanya mengapa enggan tampil dan terkesan ‘tidak ada’, padahal dirinya adalah pemimpin perusahaan, Tonny dengan santai menjawab, “yang penting perusahaan ini sukses sebagaimana keinginan pemegang saham. Soal gua mah gak penting. Penghasilan gua baik. Suasana kerja enak. Soal populer atau gak populer, buatku enggak penting “.

Akan selalu ada dalam kehidupan hal-hal yang merupakan kegembiraan dan juga kesedihan, yang dipicu oleh orang-orang yang dekat dengan kita.

“Beberapa orang datang dalam kehidupan Anda sebagai suatu karunia. Sebagian lagi orang datang sebagai pembelajaran,“ ujar Bunda Teresa.

Ada lagi kisah mengenai kehidupan rumah tangga. Dewi, yang bersuamikan pria dengan pekerjaan tidak jelas, dikenal oleh kawan-kawannya sebagai istri dan ibu dua anak yang luar biasa. Pekerja keras.

Di lingkungan keluarga, yang mengetahui keseharian kehidupan rumah tangga pasangan itu, Dewi adalah seorang pejuang. Penopang kehidupan ekonomi keluarga.

Sebaliknya, sang suami lontang-lantung. Tak memberi nafkah kepada keluarga. Lebih parah lagi, suaminya adalah seorang pemarah. Mudah marah kepada istri dan anak-anaknya. Tak pernah membantu pekerjaan rumah tangga. Suka keluyuran malam dan sering pulang dalam kondisi mabuk.

Kalau ada yang membicarakan soal beratnya beban hidupnya, Dewi berkata dengan sabar, kalem, “Ini sudah takdir ku kok. Aku mendapat amanah keluarga seperti ini.“

Bila ada yang agak usil mengusulkan agar cerai saja, Dewi selalu menjawab bahwa intinya anak-anak mereka membutuhkan figur ibu dan ayah sebagai keluarga. Sang istri juga selalu berdoa agar suaminya mengubah sikap. Dewi percaya betul bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Mengutamakan kepentingan lebih besar, mengutamakan kepentingan lebih banyak, kepentingan orang lain adalah sikap seorang kestaria. Sikap mulia itu hanya ada pada orang-orang yang secara sungguh-sungguh menghayati kodrat spiritual manusia.

Secara spiritual, Tuhan Yang Maha Esa hanya akan memuliakan dan meridhoi orang-orang yang menjunjung tinggi falsafah rahmatan lil’ alamiin. Falsafah bahwa pada dasarnya, kemuliaan hidup dunia dan akhirat hanya akan diperoleh bagi orang-orang yang memberikan manfaat bagi sesamanya dan bagi kehidupan.

PEMENANG SEJATI

Pemilu, yang menghadirkan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 serta legislator ‘baru’ telah menampakkan hasilnya meskipun belum sah dan resmi.

Pertanyaan dasar, siapa pemenang sesungguhnya dari pemilu ini? Siapa yang paling kita harapkan untuk menjadi pemenangnya? Jawabannya, pemenang sesungguhnya adalah rakyat bangsa ini. Rakyat yang telah berpartisipasi dalam pemilu ini. Rakyat sebagai konstituen, rakyat sebagai pemilih.

Merekalah pemenangnya, karena pemilu ini telah berjalan dengan baik, dan berujung pada situasi damai dan aman. Berujung kepada terpilihnya para pemimpin yang rakyat kehendaki, yang terlihat dari hak pilih yang mereka wujudkan.

Rakyatlah yang memang seharusnya dimenangkan, karena pemilu ini adalah forum rakyat, forum tertinggi kedaulatan bangsa dan negara. Vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bagi para pemimpin dan peserta yang ikut berkompetisi, pihak pemenang layak untuk bergembira. Mereka berhasil memenangkan kompetisi yang berjalan dengan cukup keras dan menghabiskan segenap energi.

Namun kepada para pemenang, tugas berat menunggu dan mereka bertanggungjawab menunaikannya, sebagaimana mereka telah janjikan kepada para pemilih dalam masa kampanye.

Bagi para pemimpin yang kalah, sudah sewajarnya kekalahan itu diterima dengan ‘legowo’, ikhlas. Tak perlu mencari kambing hitam kekalahan. Tak perlu terus ngotot mempersoalkan kemenangan lawan.

Karena seluruh proses pemilu telah dilakukan dengan segenap aturan yang disepakati. Bahwa ada disana-sini permasalahan dalam proses tersebut, kiranya dapat dipahami dan diterima dengan lapang dada. Karena tak mungkin segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. Karena memang tak ada yang namanya kesempurnaan di dunia ini.

Dan masih bagi yang kali ini kalah, silakan menyiapkan diri untuk berkompetisi di masa pemilu mendatang, 2024. Dan simaklah kata Alyssa Milanoi, seorang artis, penyanyi dan produser, “pertama, terimalah kesedihan. Sadarilah, tanpa kekalahan, kemenangan bukanlah sesuatu yang hebat.“.

Juga, pesan Nelson Mandela, pejuang kemerdekaan Afrika Selatan, layak direnungkan. “Saya tak pernah kalah. Kalau tidak menang, saya belajar.“ Kadangkala Anda menang, kadangkala Anda belajar.

Belajarlah dari samudera. Tirulah watak alami samudera. Ia tercipta dengan segala kerendahan dan keihklasannya menerima semua air yang mengalir kepadanya.

Sementara itu, belajarlah pula dari gunung. Namun ada satu hal yang jangan ditiru dari gunung, karena ia cepat kehilangan airnya. Karena ia selalu menempatkan dirinya lebih tinggi.

Dan bila semua pihak ikhlas menerima hasil pemilu ini, apapun hasilnya, kondisi positif dan kondusif akan mewarnai bangsa yang tengah belajar berdemokrasi ini.

Kemenangan sejati telah diraih oleh rakyat Indonesia. Kemenangan demi kemenangan terus menerus akan dicapai bangsa ini bila para pemimpinnya menghayati secara mendalam akan makna rahmatan lil’alamiin. Bila para pemimpin bangsa ini bersikap bagai samudera nan luas, bukan gunung yang menjulang tinggi.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (18/4/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
opini, Pemilu 2019, Pilpres 2019

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top