Mnuchin: AS-China Diskusi Konstruktif di Beijing

Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin mengungkapkan dirinya mengadakan pembicaraan yang konstruktif di Beijing pada hari Jumat (29/3/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho | 29 Maret 2019 16:26 WIB
Ivanka Trump dan Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin mengungkapkan dirinya mengadakan pembicaraan yang konstruktif di Beijing pada hari Jumat (29/3/2019).

Hal ini diungkapkan saat mengakhiri putaran dialog terbaru yang bertujuan menyelesaikan sengketa perdagangan AS-China.

Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer berada di ibu kota China untuk pertemuan tatap muka pertama antara kedua pihak dalam beberapa pekan setelah perpanjangan batas waktu gencatan perdagangan.

"@USTradeRep dan saya mengakhiri pembicaraan perdagangan konstruktif di Beijing," kata Mnuchin di jejaring sosial Twitter.

"Saya akan menyambut Wakil Perdana Menteri China Liu He untuk melanjutkan diskusi penting ini di Washington pekan depan," tambahnya, tanpa memberikan perincian.

Sebelumnya, Mnuchin mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah melakukan acara "makan malam kerja yang sangat produktif" pada Kamis malam. Dia tidak memerinci dan tidak jelas dengan siapa dia makan malam.

Pada hari Kamis, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan Beijing akan memperluas akses pasar bagi bank asing dan perusahaan sekuritas dan asuransi dengan signifikan. Hal ini memicu spekulasi bahwa China akan segera mengumumkan aturan baru yang memungkinkan perusahaan keuangan asing meningkatkan modal di dalam negeri.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan AS mungkin menurunkan beberapa tarif jika kesepakatan perdagangan tercapai, sambil mempertahankan yang lain untuk memastikan kepatuhan China terhadap kesepakatan.

"Kami tidak akan melepaskan pengaruh kami," katanya kepada wartawan di Washington, Kamis (28/3/2019), seperti dikutip Reuters.

Tuntutan Presiden AS Donald Trump termasuk diakhirinya praktik-praktik yang menurut AS mengakibatkan pencurian sistematis kekayaan intelektual AS dan pemindahan paksa teknologi AS ke perusahaan-perusahaan China.

Perusahaan AS mengatakan mereka sering ditekan untuk menyerahkan pengetahuan teknologi kepada mitra usaha patungan China, pejabat lokal, atau regulator sebagai syarat untuk melakukan bisnis di China.

Pemerintah AS mengatakan bahwa teknologi sering kali ditransfer dan digunakan oleh pesaing di China.

Poin ini menjadi persoalan rumit bagi para perunding karena para pejabat AS mengatakan China sebelumnya telah menolak untuk mengakui masalah yang dituduhkan AS, sehingga sulit untuk membahas resolusi.

China mengatakan tidak menetapkan persyaratan transfer teknologi dalam perundang-undangan negara, selama masih merupakan hasil dari transaksi yang sah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top