Berlanjutnya Perundingan Dagang AS-China Kembali Jadi Fokus Global

Pada pekan ini, fokus ekonomi global akan kembali mengarah ke perkembangan negosiasi perang dagang AS-China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 Maret 2019  |  14:58 WIB
Berlanjutnya Perundingan Dagang AS-China Kembali Jadi Fokus Global
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, Sabtu (8/7/2017). - Reuters/Saul Loeb

Bisnis.com, JAKARTA -- Perang dagang antara AS dengan China akan kembali menjadi fokus ekonomi global pekan ini, di mana para negosiator AS akan bertolak ke Beijing, China dalam agenda kelanjutan perundingan dagang.
 
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump, masih dengan nada optimistisnya, mengatakan bahwa kedua belah pihak sudah hampir mencapai sebuah kesepakatan. Namun, para pejabat pembantu AS maupun China meragukan prospek akhir dari perselisihan dagang yang merugikan ekonomi dunia.
 
Baik AS maupun China berada pada tahap kritis di tengah proses diskusi yang menyangkut isu terberat, seperti perlindungan kekayaan intelektual.
 
Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, yang mewakili Trump, serta Menteri Keuangan Steven Mnuchin merupakan bagian dari delegasi yang akan hadir pada perundingan di Beijing, 28-29 Maret 2019.
 
"Proyeksi kami adalah bahwa kesepakatan akan tercapai dan gencatan senjata kenaikan tarif akan dipertahankan," kata Tom Orlik, kepala ekonom di Bloomberg Economics, seperti dilansir dari Bloomberg, Minggu (24/3/2019).

Dia menambahkan masih ada risiko dari ketidakpastian status tarif AS, penjualan pesawat F-16 ke Taiwan, serta substansi dari apa yang ditawarkan Negeri Panda.
 
Berikut adalah rangkuman agenda ekonomi global selama sepekan ke depan:
 
- AS
Ini merupakan pekan yang padat bagi para pembicara bank sentral AS, di mana mereka akan menyampaikan secara terperinci proyeksi pandangan ekonomi menyusul sinyal yang mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga pada tahun ini.
 
Indikator ekonomi AS terbesar akan dirilis pada Rabu (27/3) waktu Washington, bersamaan dengan data neraca perdagangan. Disusul oleh laporan pendapatan serta belanja masyarakat pada Jumat (29/3).
 
- Eropa, Timur Tengah, dan Afrika 
Seluruh anggota dewan eksekutif bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) akan menjadi pembicara pada agenda berbeda pekan ini, termasuk Gubernur ECB Mario Draghi. Seluruh pernyataan bank sentral berpotensi menjadi pusat perhatian di tengah meningkatnya risiko no-deal Brexit untuk kawasan Uni Eropa (UE) maupun Inggris.
 
Afrika Selatan kemungkinan dapat mempertahankan peringkat kredit investasi pada pengumuman Jumat (29/3). Namun, komentar dari Moody's Investors Service diperkirakan tidak sesuai ekspektasi dan mungkin dalam waktu dekat lembaga pemeringkat tersebut akan memberikan proyeksinya.
 
Di sisi lain, pembuat kebijakan di Hungaria kemungkinan akan meningkatkan suku bunga pada Selasa (26/3), sedangkan Republik Ceko, Nigeria, Afrika Selatan, Kenya, dan Mesir akan segera melakukan pertemuan bank sentral.
 
- Amerika Tengah dan Amerika Selatan
Para pembuat kebijakan dari dua perekonomian terbesar Amerika Latin diperkirakan akan memberi sinyal pemangkasan suku bunga. Pada Selasa (26/3), investor akan mencermati risalah dari bank sentral Brasil terkait tanda-tanda kemungkinan pelonggaran moneter pada paruh kedua tahun ini.
 
Dalam pertemuan pertama di bawah pimpinan baru Roberto Campos Neto pada Rabu (20/3), bank sentral Brasil memutuskan untuk menahan biaya pinjaman pada titik terendah sepanjang waktu dan mengakui realisasi pemulihan ekonomi Brasil mengecewakan.
 
Pada Kamis (28/3), bank sentral Meksiko kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level tertinggi selama satu dasawarsa terakhir. Tetapi, mungkin juga akan mengisyaratkan siap untuk memangkasnya untuk pertama kalinya sejak 2014 karena pertumbuhan melambat.
 
Di sisi lain, para pembuat kebijakan di Chile bertemu pada Jumat (29/3).
 
- Asia
Penyelenggaraan dua forum berskala besar akan mendominasi pemberitaan Asia sepanjang pekan ini, yakni Forum Pembangunan China (China Development Forum) dan Forum Boao di China. Gubernur bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) Yi Gang akan hadir dalam kedua acara tersebut.
 
Perdagangan serta guncangan pada ekonomi global akan menjadi topik pembicaraan utama di tengah optimisme yang tumbuh bahwa ekonomi terbesar kedua dunia tersebut sedang menuju stabilisasi.
 
Sementara itu, bank sentral Selandia Baru akan memutuskan kebijakan terkait suku bunga serta diproyeksi mempertahankan suku bunga jangka panjang sejak kenaikan terakhir pada 2016.
 
Di sisi lain, pada Jumat (29/3), sejumlah data ekonomi Jepang, termasuk ketenagakerjaan dan penjualan ritel, akan menjadi fokus pasar. Pelemahan lebih lanjut dapat memicu perdebatan lanjutan terkait rencana bank sentral Jepang  untuk mengejar inflasi 2%.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, perang dagang AS vs China

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top