AS Jatuhkan Sanksi pada 2 Perusahaan China karena Bantu Korea Utara

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap dua perusahaan logistik China karena telah melanggar pembatasan transaksi terhadap Korea Utara
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Maret 2019  |  13:40 WIB
AS Jatuhkan Sanksi pada 2 Perusahaan China karena Bantu Korea Utara
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, di Hanoi, Vietnam, Rabu (27/2/2019). - REUTERS/Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap dua perusahaan China karena telah melanggar pembatasan transaksi terhadap Korea Utara. Ini merupakan sanksi pertama yang dijatuhkan Washington sejak pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara pada akhir Februari lalu gagal mencapai kesepakatan.

Melansir laporan Reuters pada Jumat (22/3/2019), Kementerian Keuangan AS memberikan sanksi kepada dua perusahaan logistik China, yakni Dalian Haibo International Freight Co Ltd dan Liaoning Danxing International Forwarding Co Ltd.

Dalam keterangan resmi, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyebut dua perusahaan tersebut telah membantu Korea Utara menghindari sanksi. Akibat pelanggaran ini, perusahaan AS dilarang melakukan transaksi dengan keduanya dan aset dua perusahaan China itu di AS, jika ada, akan dibekukan.

"Kementerian Keuangan akan terus menerapkan sanksi dan dengan jelas menyatakan kedua perusahaan yang telah melakukan taktik penipuan untuk menutupi perdagangan ilegal dengan Korea Utara akan menghadapi risiko yang besar," tulis Mnuchin dalam pernyataan.

Berdasarkan keterangan Kementerian Keuangan AS, Dalian Haibo dikenai sanksi karena menjalin transaksi dengan Paeksol Trading Corp, sebuah perusahaan yang telah menjadi target sanksi AS terhadap Korea Utara. Dalian Haibo dilaporkan telah mengirimkan kargo dari Dalian, China ke Paeksol di Nampo, Korea Utara pada awal 2018 dengan menggunakan kapal berbendera Korut.

Selain pelanggaran oleh Dalian Haibo, AS juga menyebut bahwa Liaoning Danxing kerap melakukan praktik penipuan sehingga pejabat pengadaan Korea Utara yang berbasis di Eropa bisa beroperasi.

AS mengungkapkan praktik tersebut mencakup penonaktifan dan manipulasi sistem identifikasi otomatis, mengubah fisik kapal logistik, memindahkan kargo ke kapal lain, dan memalsukan dokumen.

Kementerian Keuangan AS mencatat bahwa pada 2018, terdapat 263 kapal tanker yang mendistribusi minyak Korea Utara melalui mekanisme pindah muatan antarkapal. Dengan asumsi muatan seluruh kapal tersebut penuh, maka Korea Utara diperkirakan menerima 3,78 juta barel minyak pada 2018. Angka tersebut 7,5 kali lebih besar dibanding jumlah yang diizinkan AS dalam resolusi sanksinya, yakni 500 ribu barel per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat

Sumber : Reuters

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top