AS dan China Masih Belum Capai Kesepakatan Soal Isu Nilai Tukar

Empat narasumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Amerika Serikat dan China hingga saat ini belum mencapai kesepakatan terkait isu sensitif yang menyangkut isu nilai tukar mata uang.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  11:25 WIB
AS dan China Masih Belum Capai Kesepakatan Soal Isu Nilai Tukar
Amerika Serikat dan China hingga saat ini belum mencapai kesepakatan terkait isu sensitif yang menyangkut isu nilai tukar mata uang. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA --  Empat narasumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Amerika Serikat dan China hingga saat ini belum mencapai kesepakatan terkait isu sensitif yang menyangkut isu nilai tukar mata uang.

Sebelumnya AS meminta China untuk menjaga stabilitas yuan dalam upaya menetralkan devaluasi mata uang Beijing yang dapat melawan tarif kenaikan tarif.

"Kebijakan ini akan menjadi pakta mata uang terkuat yang pernah ada," ujar Menteri Keuangan Steven Mnuchin setelah perundingan tingkat tinggi di Washington, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (24/2/2019).

Perundingan dagang di Washington diperpanjang hingga akhir pekan untuk mendiskusikan kesepakatan dagang yang lebih menyeluruh sebagai upaya mencegah kenaikan tarif produk China pada 1 Maret 2019.

Presiden Donald Trump sebelumnya menuduh China mempermainkan mata uangnya untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

Departemen Keuangan China berulang kali mengelak bahwa mereka telah memanipulasi laporan mengenai pasar valuta asing yang dirilis setiap pertengahan tahun.

Meski demikian, AS tetap meminta China untuk menjaga stabilitas yuan sebagai bagian dari negosiasi perdagangan antar kedua negara.

Jika berhasil diimplementasi, kebijakan ini akan menetralkan segala upaya Beijing untuk mendevaluasi mata uang dan membuat ekspor lebih murah untuk melawan tarif AS.

Dalam upaya menekan defisit perdagangan AS, China telah menawarkan penambahan volume pembelian produk pertanian dan energi asal AS sebagai bagian dari negosiasi.

China dikabarkan akan mengusulkan pembelian produk agrikultur Amerika Serikat senilai US$30 miliar per tahun meliputi komoditas seperti kedelai, jagung, dan gandum.

Sinograin dikabarkan telah menyetujui ketentuan kontrak pembelian pada Kamis (21/2) agar dapat segera melakukan pembelian jika ada kesepakatan yang dicapai selama perundingan dagang berlanjut di Washington.

China telah menyepakati pembelian kedelai dalam jumlah besar dalam beberapa bulan terakhir selama masa 'gencatan senjata' perang tarif berlangsung, namun para pedagangan menginginkan hal yang sama juga diterapkan kepada produk lain seperti jagung.

Penambahan pembelian dapat mendorong kenaikan harga yang mengalami kesulitan untuk tumbuh di awal tahun.

Acuan AS untuk produk jagung berjangka tumbuh untuk hari ketiga pada Jumat (21/2) menjadi US$3,845 per gantang, atau naik 3% pada 2019 setelah kenaikan 7% sepanjang tahun lalu.

Kedua belah pihak juga masih dalam tahap tawar menawar terkait reformasi ekonomi China yang lebih mendalam, termasuk mengatasi dugaan pencurian kekayaan intelektual dari perusahaan AS yang beroperasi di China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup