Bahasa dan Retorika Ikut Tentukan Keberhasilan Jokowi dan Prabowo di Debat Capres 2019

Bahasa dan gaya retorika merupakan dua faktor yang ikut menentukan keberhasilan seorang calon presiden di sebuah panggung debat.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  19:39 WIB
Bahasa dan Retorika Ikut Tentukan Keberhasilan Jokowi dan Prabowo di Debat Capres 2019
Ilustrasi sosialisasi Debat Kedua Calon Presiden Pemilu 2019 yang digelar di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2/2019) dengan tema: Energi dan Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, serta Infrastruktur. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bahasa dan gaya retorika merupakan dua faktor yang ikut menentukan keberhasilan seorang calon presiden di sebuah panggung debat.

Peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang Surahmat mengatakan, bahasa akan berpengaruh terhadap keputusan publik jika dapat digunakan untuk dua hal.

Pertama, menjelaskan konsep sehingga dipahami publik secara konkret. Kedua, membangkitkan emosi dengan menyatakan keberpihakan.

Dia menjelaskan, agar bisa digunakan untuk menjelaskan konsep secara konkret, kandidat harus bisa memadukan jargon besar dengan penjelasan operasional.

"Di sini, kandidat harus bisa menggunakan bahasa untuk menyatakan bahwa dirinya punya visi yang baik sekaligus memiliki strategi yang jitu untuk mewujudkannya," ujar Surahmat kepada Bisnis, Kamis (14/2/2019).

Agar bahasa bisa membangkitkan emosi, lanjut Surahmat, kandidat harus menunjukkan posisi keberpihakannya. Keberpihakan ini bisa dinyatakan melalui penggunaan kata sapaan, pilihan kata, juga menggunakan kata kunci tertentu yang bernilai emosional bagi publik.

Menurut Surahmat, dua kandidat capres dan cawapres di debat yang pertama masih terjebak menggunakan jargon-jargon besar, tetapi tidak dilengkapi uraian terperinci dan operasional, bagaimana mereka akan mewujudkannya.

"Contohnya, kandidat nomor urut 01 Jokowi bilang bahwa hukum harus ditegakkan secara adil. Tapi dia tidak mempersoalkan bagaimana keadilan itu diwujudkan. Dia mengatakan bahwa "Kalau ada bukti, silakan dilaporkan saja" seolah-olah mengasumsikan hukum Indonesia sudah demikian rapi. Tapi dia tidak menjelaskan bagaimana ia akan mewujudkan penegakkan hukum yang adil," jelas Surahmat.

Sementara itu, kandidat nomor 02 Prabowo Subianto menyampaikan akan meningkatkan ekonomi Indonesia tetapi dia tidak mengelaborasi dalam uraian yang lebih operasional, bagaimana membuat rupiah kuat, bagaimana cara membuat pertumbuhan ekonomi lebih dari 7% serta bagaimana mengurangi impor.

"Kecenderungan kandidat menggunakan jargon besar tidak semata-mata karena pilihan mereka, tapi juga karena keterbatasan durasi. Di waktu yang sangat singkat, mereka harus meyakinkan orang bahwa mereka punya gagasan bagus," kata Surahmat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Debat Capres

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top