Komentar Korsel Soal Kaisar Jepang Tuai Kecaman, Shinzo Abe Tuntut Permintaan Maaf

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengecam komentar seorang anggota parlemen Korea Selatan mengenai kaisar Jepang karena dan menyebut hal itu sangat tidak pantas.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Februari 2019  |  12:37 WIB
Komentar Korsel Soal Kaisar Jepang Tuai Kecaman, Shinzo Abe Tuntut Permintaan Maaf
PM Jepang Shinzo Abe - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengecam komentar seorang anggota parlemen Korea Selatan mengenai kaisar Jepang karena dan menyebut hal itu sangat tidak pantas.

Abe mengatakan kepada parlemen Selasa bahwa Jepang meminta Korea Selatan untuk meminta maaf atas pernyataan Ketua Majelis Nasional Moon Hee-sang pekan lalu, yang menggambarkan Kaisar Akihito sebagai "putra pelaku kejahatan perang."

Moon membuat pernyataan itu dalam wawancara Bloomberg Kamis pekan lalu, di mana ia mendesak permintaan maaf kekaisaran untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan wanita Korea era kolonial untuk bekerja di rumah bordil militer Jepang.

"Ketika saya membaca pernyataan ini, saya benar-benar terkejut," kata Abe kepada anggota parlemen di Tokyo, seperti dikutip Bloomberg.

“Negara kami segera mengabarkan ke pihak Korea Selatan melalui rute diplomatik bahwa komentar Moon Hee-sang sangat tidak pantas dan sangat disesalkan. Kami memprotes keras dan menyerukan permintaan maaf dan penarikan perkataan kembali,” lanjutnya.

Kedua negara, yang merupakan mitra dagang terbesar ketiga masih-masing pihak, telah laha berdebat mengenai masalah yang timbul dari pendudukan Jepang di Semenanjung Korea tahun 1910-1945.

Gesekan antara kedua sekutu AS tersebut menimbulkan pertanyaan baru tentang upaya Washington untuk membangun ikatan yang lebih erat antara mitra regionalnya untuk melawan Korea Utara dan China.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima permintaan maaf Jepang pada hari Minggu dan Senin, tetapi tidak segera menanggapi komentar terbaru Abe. Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono telah memperingatkan Moon agar tidak membuat pernyataan yang memecah belah, namun tidak secara terbuka menuntut permintaan maaf.

"Kami belum tahu bagaimana Korea Selatan akan menangani ini, tetapi kami mengharapkan tanggapan yang tulus," kata Kono kepada parlemen, Selasa.

Kebanyakan warga Korsel percaya bahwa Jepang belum cukup meminta maaf atas tindakan selama pendudukan tahun 1910-1945, sementara banyak warga Jepang berpendapat bahwa pernyataan penyesalan di masa lalu seharusnya sudah mencukupi.

Meskipun Kaisar Akihito telah menyatakan penyesalan atas penjajahan Jepang atas Korea, posisinya yang dihormati membuat segala upaya untuk melibatkannya dalam perselisihan tidak dapat diterima oleh banyak warga Jepang.

Kementerian Luar Negeri Korsel beralasan bahwa pernyataan Moon dimaksudkan untuk menekankan penderitaan para korban dan bahwa Korsel berkomitmen untuk menjadi ikatan yang berorientasi ke masa depan.

"Jepang perlu menunjukkan ketulusan hati untuk kehormatan, martabat dan untuk menyembuhkan rasa sakit emosional para korban berdasarkan pendekatan yang berpusat pada korban," ungkap kementerian.

Perdebatan telah muncul kembali sejak Moon Jae-in terpilih sebagai presiden pada tahun 2017 dan membatalkan perjanjian wanita penghibur yang dicapai pendahulunya dengan Abe. Setelah kematian mantan wanita penghibur yang menjadi juru kampanye, Kim Bok-dong, bulan lalu, Moon bersumpah untuk melakukan segala daya untuk "mengoreksi sejarah" bagi 23 korban yang selamat.

"Hanya perlu satu kata dari perdana menteri, yang mewakili Jepang. Saya berharap kaisar akan melakukannya karena ia akan segera mundur," ungkap Moon Hee-sang pekan lalu. "Bukankah dia putra pelaku utama kejahatan perang?"

Berdasarkan pernyataan Departemen Luar Negeri Korsel, Moon Hee-sang berada di Washington dan bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS John Sullivan pada hari Senin. Mereka berjanji untuk memperkuat kerja sama trilateral dengan Jepang,

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, korea selatan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top