Perbincangan Dagang AS-China Bahas Kekayaan Intelektual

Tuntutan ini merupakan salah satu syarat dari AS agar perang tarif impor antar kedua negara dapat segera berakhir.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 Februari 2019  |  19:17 WIB
Perbincangan Dagang AS-China Bahas Kekayaan Intelektual
Perang dagang AS China. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Delegasi Amerika Serikat sedang bersiap untuk bertolak ke Beijing untuk kembali mendesak reformasi kebijakan pemerintah China mengenai perlakuan terhadap kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan Amerika.

Tuntutan ini merupakan salah satu syarat dari AS agar perang tarif impor antar kedua negara dapat segera berakhir.

Putaran baru perbincangan perdagangan akan dimulai pada Senin (11/2), setelah sebelumnya serangkaian pertemuan dilakukan di Washington pekan lalu yang berakhir tanpa kesepakatan, pejabat tinggi AS menyampaikan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengumumkan bahwa pertemuan awal pada tingkat pejabat rendah akan diwakili oleh Wakil Perwakilan Perdagangan AS Jeffrey Gerrish.

Sementara itu perbincangan tingkat tinggi akan berlangsung pada Kamis dan Jumat dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Lighthizer, yang ditunjuk oleh Presiden AS Donald Trump untuk menyelesaikan perselisihan panjang ini, telah menjadi pendukung pemerintah AS yang kuat untuk mendorong China agar segera melakukan reformasi struktural.

Menurut Lightizer, ada praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan oleh China termasuk mencuri kekayaan intelektual dan memaksa perusahaan AS untuk membagi teknologi mereka dengan perusahaan China.

“Amerika Serikat adalah produsen besar teknologi, inovasi, pengetahuan, dan memegang sejumlah rahasia dagang. Kami harus beroperasi di lingkungan di mana hal-hal itu dilindungi,” kata Lighthizer pekan lalu setelah pembicaraan dagang berakhir di Gedung Putih, Jumat (1/2/2019) seperti dikutip melalui Reuters.

Pemerintah China mengelak bahwa mereka telah melakukan tindak kecurangan pada kegiatan dagang dengan AS.

Kedua pihak berusaha untuk menuntaskan kesepakatan menjelang tenggat 1 Maret dimana tarif AS atas impor China senilai US$200 miliar dijadwalkan meningkat menjadi 25% dari 10%.

Kementerian Perdagangan China mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (9/2) bahwa kedua negara akan mengadakan diskusi mendalam lebih lanjut tentang masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama, berdasarkan apa yang mereka bicarakan pada putaran terakhir pembicaraan di Washington. Namun mereka tidak memberikan informasi tambahan terkait detil isi pembahasan.

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa Duta Besar China untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai, mengatakan bahwa pola pikir zero-sum game akan merusak hubungan AS dengan China.

"Perusahaan China dan AS harus bersaing sambil bekerjasama dengan satu sama lain. Kisah nyata dalam bisnis tidak hanya hitam dan putih," ujar Cui seperti dikutip oleh Xinhua.

Kamis (7/2) lalu Trump mengatakan dia tidak berencana untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping sebelum batas waktu pengenaan tarif baru yakni pada 1 Maret 2019. Pernyataan ini memupuskan harapan bahwa solusi perang dagang dapat segera tercapai,

Erin Ennis, Wakil Presiden Senior Dewan Bisnis AS-China, mengatakan bahwa daftar isu yang harus dibahas oleh petinggi kedua negara sudah semakin mengerucut sehingga ada indikasi bahwa memang perselisihan dagang masih ditangani.

"Tetapi kami juga mendengar bahwa ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Saya rasa kedua belah pihak belum akan menghasilkan sesuatu pada pertemuan kali ini," ujar Ennis.

Seorang narasumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa untuk mencapai kesepakatan, AS dan China juga harus menyiapkan mekanisme penegakan kebijakan perdagangan baru.

"Akan sangat menarik jika muncul indikasi dari hasil perbincangan terkait kemajuan dalam isu subsidi, transfer teknologi paksa dan kompleksitas pada isu teknologi, serta mekanisme penegakan hukum yang akan diterapkan," kata sumber tersebut.

Peningkatan ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China telah merugikan kedua negara miliaran dolar dan mengguncang pasar keuangan global.

Jika negosiasi tidak mengalami kemajuan yang memadai, pejabat AS mengatakan kenaikan tarif akan berlaku.

Dua ekonomi terbesar dunia kini makin kehabisan waktu sebelum tarif impor baru AS diberlakukan. Pemerintahan Trump berencana untuk meningkatkan tarif impor produk China senilai US$200 miliar menjadi 25%.

Sementara itu, Trump pekan lalu menyampaikan bahwa AS bisa saja menyetujui negosiasi perpanjangan waktu gencatan senjata perang tarif jika sudah ada kemajuan dari rangkaian perbincangan dagang yang sedang dilakukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top