Prabowo-Sandi Belum Efektif Rangkul "Emak-Emak". Jokowi-Ma'ruf Lebih "Nyaman"?

Politik untuk "emak-emak" yang kerap digaungkan paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga ternyata belum sanggup merangkul suara perempuan pada umumnya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  21:09 WIB
Prabowo-Sandi Belum Efektif Rangkul
Banner Debat Capres di Hotel Bidakara, Jakarta. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Politik untuk "emak-emak" yang kerap digaungkan paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga ternyata belum sanggup merangkul suara perempuan pada umumnya.

Hal ini tercermin dari survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang mengukur 6 kantong suara, yaitu basis suara pemilih Muslim, Minoritas, Wong Cilik, Perempuan, Kalangan Terpelajar, dan Milenial. Hasilnya, Jokowi-Ma'ruf masih mendominasi Prabowo-Sandiaga untuk basis suara "emak-emak".

Peneliti LSI Adjie Alfaraby menuturkan kedua paslon mesti memperhatikan isu-isu kebutuhan rumah tangga bila ingin meraup suara wanita yang mencapai 50% suara nasional ini.

"Yang harus kita lihat kebutuhan riil dari perempuan, menyangkut kebutuhan riil rumah tangga mereka, seperti ekonomi, soal stabilitas harga bahan pokok, soal beban hidup," ungkap Adjie, di kantor LSI, Kamis (7/1/2019).

Hasil survei mencatat Jokowi-Ma'ruf selalu unggul sejak enam bulan terakhir, dengan persentase 50,2% berbanding 30% pada Agustus 2018; 54% berbanding 27% pada September 2018; dan 61,2% berbanding 25,2% dari basis suara pada Oktober 2018.

Dampak kampanye cawapres Sandiaga Uno dengan turun ke pasar-pasar pernah memperlihatkan dampak positif, hingga sanggup memperkecil selisih menjadi 49,1% untuk Jokowi-Ma'ruf dan 34,3% untuk Prabowo-Sandiaga pada November 2018.

Tetapi, jarak kembali melebar pada Desember 2018 dengan hasil 55,7% memilih Jokowi-Ma'ruf dan 26,8% memilih Prabowo-Sandiaga. Terakhir, keduanya sama-sama menguat dengan persentase 57% berbanding 27,8% dari basis suara perempuan.

Nyaman Pilih Petahana

Adjie menjelaskan bahwa hasil survei ini terbilang wajar, sebab tingkat kepuasan masyarakat pada petahana masih tinggi. Selain itu, tidak adanya gejolak ekonomi yang mengguncang masyarakat, membuat mereka cenderung "nyaman" untuk memilih Jokowi kembali.

"Situasi ekonomi saat ini ya, baik-baik saja, harga kebutuhan pokok stabil, inflasi relatif stabil, misalnya BBM juga stabil, tidak ada kenaikan. Jadi yang namanya petahana, kalau masyarakat mempersepsikan biasa-biasa saja, stabil saja, cendrungnya masih memilih Pak Jokowi," ungkap Adjie.

Oleh sebab itu, Adjie menilai cara kampanye penantang dalam merangkul kaum perempuan masih belum tepat sasaran. Sebab, selain kritik terhadap petahana, mereka mesti membawa program-program perubahan yang lebih konkret.

"Ketika penantang mengkritik apa yang telah dicapai lima tahun, tapi kritik itu tanpa ada memberikan altenatif yang meyakinkan, maka belum tentu pemilih bergeser terhadap mereka," ungkap Adjie.

Terlebih, ujar Adjie, kaum "emak-emak" merupakan kalangan pemilih oportunis. Sehingga perubahan yang mudah mengena dan dipahami oleh perempuan mestinya lebih kentara dalam kampanye, apabila penantang memang ingin merangkul kalangan mereka.

"Walau pun misalnya, pemilihnya menerima kritik itu atau meyatakan bahwa kritik itu benar, tapi [kalau] tidak ada alternatifnya, mereka juga ragu. Jadi ada kemungkinan karena tidak ada pilihan program, ya balik lagi kepada petahana yang lima tahun kerja," jelas Adjie.

"Artinya [kaum emak-emak cenderung menganggap] kerja untuk melanjutkan itu lebih mudah, dibanding membangun suatu yang baru," tambah Adjie.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top