Iran Studi Banding Penyelenggaraan Haji ke Indonesia

Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama pada Rabu (6/2/2018) menerima kunjungan Konsul Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta.
Hafiyyan | 06 Februari 2019 20:36 WIB
Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menata dokumen paspor dan visa jemaah calon haji di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (27/7). - ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA—Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama pada Rabu (6/2/2018) menerima kunjungan Konsul Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta.

Kehadiran Konsul diterima oleh Sesditjen PHU Ramadhan Harisman, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, Direktur Bina Haji Khoirizi, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Arfi Hatim, dan jajaran Ditjen PHU lainnya.

Menurut Sri Ilham, Konsul Kebudayaan pada Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Mehrdad Rakhshandeh, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Iran memerlukan informasi yang lengkap terkait penyelenggaraan ibadah haji Indonesia sebagai pengirim jemaah terbesar.

“Konsul Iran ingin menggali informasi dari Indonesia, tentang bagaimana menyelenggarakan ibadah haji dengan sangat baik meski jemaahnya sangat banyak, terbesar jumlahnya di dunia,” ujarnya, Rabu (6/2/2019). “Bahkan, keberhasilan Indonesia juga diakui Iran dan masyarakat dunia,” lanjutnya.

Kepada Konsul Kebudayaan Iran, Sri Ilham menjelaskan skema penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia. Menurutnya, sukses penyelenggaraan haji di Indonesia tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, utamanya pemerintah dengan DPR. Proses penyusunan anggaran juga dibahas bersama antara Pemerintah dengan DPR.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir, sistem keberangkatan jemaah haji diatur secara lebih transparan melalui sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (Siskohat). Layanan didasarkan pada prinsip first come first served.

Seluruh proses pengadaan layanan, lanjut Sri, dilakukan berdasarkan pembinaan dan pengawasan dari tim pengawas. Hal ini berdampak positif untuk memastikan seluruh layanan yang akan diberikan kepada jemaah haji sesuai dengan standar dan ketentuan.

“Terobosan dan inovasi terus kami upayakan dalam tiap tahunnya. Tahun ini misalnya, meski biaya haji sama dengan tahun lalu, namun kami terus mengupayakan adanaya peningkatan layanan. Insya Allah, tenda Arafah tahun ini dilengkapi dengan AC,” tutur Sri Ilham.

Pemerintah dan DPR telah bersepakat bahwa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1440H/2019M sama dengan tahun lalu, yaitu rata-rata Rp35,23 juta. Hal ini juga ditanyakan oleh pihak Konsul Kebudayaan Iran.

Menurut Mehrdad Rakhshandeh, trend saat ini biaya haji justru naik. Apalagi, Saudi telah menaikkan komponen biaya transportasi lebih dari 60%. Namun, Indonesia justru dapat mempertahankan agar BPIH tidak naik.

Sesditjen PHU Ramadhan Harisman menjelaskan bahwa biaya haji jemaah Indonesia sebenarnya berkisar Rp69 jutaan, tetapi biaya yang dibebankan kepada jemaah rata-rata Rp35,23 juta. Selebihnya ditanggung dari dana optimalisasi, hasil investasi keuangan haji selama ini.

Menurut Ramadhan,  jemaah saat mendaftar membayar Rp25juta. Dana itu yang dikelola dengan ditempatkan di deposito dan sukuk. Hasil optimalisasi dana itu yang kemudian digunakan untuk ikut membiayai penyelenggaraan ibadah haji.

Sri ilham menambahkan, Iran menawarkan kerjasama saling tukar informasi dan pengalaman khususnya di bidang penyelenggaraan ibadah haji. Ke depan diharapkan akan dilakukan dialog mulai dari manasik,  struktur organisasi penyelenggaraan haji, teknis pembinaan jemaah, penyiapan akomodasi, konsumsi dan transportasi.

Tag : iran, Ibadah Haji
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top