PILPRES 2019: Kelebihan & Kelemahan Gaya Bicara Jokowi yang Lebih Menyerang Prabowo-Sandi

Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf, Meutya Hafid menyebut, calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi akan mempertahankan gaya bicaranya yang lebih menyerang seperti belakangan ini.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 05 Februari 2019  |  09:40 WIB
PILPRES 2019: Kelebihan & Kelemahan Gaya Bicara Jokowi yang Lebih Menyerang Prabowo-Sandi
Calon presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo memberikan keterangan pers seusai menghadiri Rapat Konsolidasi Nasional Jenggala Center di Jakarta, Minggu (3/2/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf, Meutya Hafid menyebut, calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi akan mempertahankan gaya bicaranya yang lebih menyerang seperti belakangan ini.

"Gaya Pak Jokowi berbeda, kalau dulu diam, sekarang lebih gaspol. Sepertinya ini akan menjadi gaya beliau sampai akhir," kata Meutya Hafid saat ditemui di bilangan Menteng, Jakarta pada Senin (4/2/2019).

Belakangan, Jokowi memang berbicara dengan nada "keras" untuk membalas sejumlah isu yang dilontarkan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Saat berkunjung ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, Jokowi menanggapi beberapa pernyataan kontroversial yang diucapkan Prabowo, mulai dari prediksi Indonesia bubar, Indonesia dikhawatirkan seperti Haiti, hingga hoax Ratna Sarumpaet.

Beberapa pengamat menilai, gaya kampanye Jokowi seperti ini memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Berikut analisis pengamat:

Kelebihan

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai, gaya kampanye menyerang ini diperkirakan bisa meningkatkan elektabilitas Jokowi.

"Setelah hampir 4 bulan bertahan dan efektif membuat suara tidak merosot, maka selanjutnya dalam rangka menambah daya tarik elektabilitas, pola yang dipergunakan adalah kampanye menyerang," ujar Rangkuti, Senin (4/2/2019).

Namun, ujar Rangkuti, efektif atau tidaknya gaya itu, tentu belum bisa diukur saat ini.

"Mari kita lihat apakah memang pola menyerang ini akan efektif menaikkan elektabilitas atau hanya akan membuat elektabilitas Pak Jokowi tetap bertahan di tempat," ujar Rangkuti.

Peneliti CSIS, Arya Fernandes mengatakan gaya komunikasi Jokowi yang berubah dipengaruhi oleh kompetisi yang berubah dan perubahan strategi politik. Kompetisi yang berubah itu salah satunya karena adanya keserentakan dan kompetisi yang mulai 'keras' antar calon.

 "Perubahan strategi politik ditujukan untuk memastikan tidak terjadi migrasi pemilih ke rival dan cara agar tidak terjadi imej negatif dari pemilih yang belum menentukan pilihan."

Senada dengan Rangkuti, Arya mengatakan efek dari gaya itu belum terukur untuk saat ini.

 "Namun, bila tidak disiapkan secara matang bisa menjadi boomerang," ujar Arya.

Kelemahan

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai gaya menyerang Jokowi yang  belakangan terlihat, dinilai sebagai bentuk kepanikan karena elektabilitas yang belum aman.

Sebagai petahana, elektabilitas Jokowi minimal 60 persen, agar aman. Sedangkan Jokowi masih 53 persen.

“Karena itu, Jokowi menggunakan strategi 'total foot ball' ala Barcelona," ujar Adi Prayitno, Minggu (3/2/2019) malam.

Menurut Prayitno, sebaik-baiknya strategi bertahan adalah menyerang untuk mengunci kemenangan.

Kendati demikian, ujar dia, sebagai petahana, Jokowi mestinya fokus menjual kesuksesan kinerjanya selama 5 tahun dan mengapitalisasi semua yang sedang dan telah dilakukan seperti; pembangunan infrastruktur, dana desa, PKH, kartu Indonesia pintar, kartu indonesia sehat, dan seterusnya.

"Bukan malah sibuk menyerang larang. Gaya frontal ini bukan khas Jokowi yang biasanya kalem dan datar."

Prayitno menilai strategi menyerang ini sengaja didesain untuk terus mengerek elektabilitas Jokowi yang relatif stagnan. Namun, gaya seperti ini dinilai relatif akan merugikan, karena Jokowi tidak alamiah seperti biasanya yang jualan kerja dan cuek dengan gosip-gosip luaran.

 "Sebab, yang disukai dari Jokowi itu karena dia alamiah, apa adanya, dan tak suka menyerang."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, Pilpres 2019

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top