PILPRES 2019: Jokowi ‘Serang’ Balik Prabowo-Sandi

Sejak resmi mencalonkan diri sebagai calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kerap kali bermanuver menyerang kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada saja kinerja presiden yang dianggapnya belum tuntas dan harus segera dilakukan perubahan.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 04 Februari 2019  |  11:08 WIB
PILPRES 2019: Jokowi ‘Serang’ Balik Prabowo-Sandi
Presiden Joko Widodo mengamati peta jalan tol di sela-sela peresmian ruas jalan tol Trans Jawa di Interchange Bandar kilometer 671, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/12/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak resmi mencalonkan diri sebagai calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kerap kali bermanuver menyerang kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada saja kinerja presiden yang dianggapnya belum tuntas dan harus segera dilakukan perubahan.

Jokowi terlihat jarang membalas kritikan tersebut. Hingga akhirnya, Jokowi melakukan serangan balik saat kampanye di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) dan Semarang, Jawa Tengah (Jateng) akhir pekan lalu.

Semua komentar dan isu negatif yang menjadi perbincangan tidak lepas dari sorotan Jokowi.

Saat deklarasi dukungan Forum Alumni Jatim di Tugu Pahlawan, Jokowi memastikan Indonesia tidak akan bubar di tahun 2030. Ini terkait komentar Prabowo yang menyebut Indonesia tidak akan ada lagi.

Pernyataannya berlandaskan pada novel fiksi karya PW Singer dan August Cole. Tentu, Jokowi meminta kepada masyarakat untuk membangun sikap optimisme, bukan pesimisme.

Kemudian, mantan Wali Kota Surakarta ini menyindir selang darah yang dipakai 40 kali untuk pasien gagal ginjal. Tempe setipis ATM pun tidak luput dia singgung.

“Jangan ada ngomong lagi nanti selang darah dipakai 40 kali. Jangan sampai ada ngomong lagi tempe setipis ATM,” ucap Jokowi.

Untuk selang darah, itu diucapkan Prabowo pada ceramah akhir tahun di kediamannya, Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sementara, tempe setipis ATM pernah dilontarkan Sandi yang mengkritisi kenaikan harga pangan September lalu.

Sebenarnya, sebulan kemudian Jokowi melakukan pemantauan ke salah satu pasar Bogor, Jawa Barat. Saat memonitor harga kebutuhan, ternyata harga tempe stabil dan tetap tebal.

Serangan Jokowi selanjutnya terkait Ratna Sarumpaet. Mantan Juru Kampanye Nasional Prabowo-Sandi menyebarkan berita bohong karena mengaku habis dikeroyok orang tak dikenal. Setelah ditelisik, ternyata Ratna habis melakukan operasi di bagian wajah.

Sindiran ini juga sebelumnya Jokowi lontarkan ketika debat capres-cawapres perdana. Ini karena Prabowo menanyakan adanya ketidakpastian hukum. Jokowi meminta untuk melaporkan temuan tersebut jika memang ada sembari menyelipkan kasus Ratna.

“Jadi jangan menuduh seperti itu Pak Prabowo. Jangan grasa-grusu. Jurkam Pak Prabowo katanya babak belur, apa kenyataannya operasi plastik. Kenapa harus menuduh-nuduh seperti itu. Negara hukum ini,” jelas Jokowi.

Jokowi lalu menyinggung Indonesia yang disamakan dengan Haiti oleh Prabowo di Solo, Desember lalu. Menurut Jokowi, hal tersebut tidak berimbang karena Indonesia masuk  ke daftar negara G-20.

Bergeser kampanye di Semarang, Jokowi masih menyerang balik. Kali ini Sandi jadi sasarannya karena menyebut jalan tol menggunakan utang dan tidak dirasakan rakyat kecil.

Jokowi menuturkan bahwa alasannya ‘kekeh’ membangun infrastruktur untuk memudahkan dan mempercepat mobilitas barang dan orang. Dengan begitu, Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

 Masih di Semarang dalam kesempatan berbeda yaitu kunjungan kerja, Presiden Jokowi menilai pihak-pihak yang menyebut Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai Menteri Pencetak Utang adalah mereka yang tak paham ekonomi makro.

Hal ini karena dunia tahu bahwaSri Mulyani merupakan salah satu anak bangsa kebanggaan Indonesia, bahkan beberapa kali dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik di dunia.

“Masuk sebagai penghargaan [termasuk dari] internasional. Semua orang menghargai kok. Semua orang hormat pada Bu Sri Mulyani,” ujar Jokowi.

Beberapa waktu lalu, calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto mengusulkan penggantian nama Menteri Keuangan karena data yang dimilikinya menunjukkan nilai utang Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Utang menumpuk terus. Kalau menurut saya jangan disebut lagi lah ada Menteri Keuangan, mungkin Menteri Pencetak Utang,” ungkap Prabowo dalam acara Deklarasi Nasional Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia untuk Pemenangan Prabowo-Sandi di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (26/1/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, sandiaga uno, prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top