Islam, Paman Xi dan Jalan Baru Sosialisme China

Tak hanya dalam kaitannya dengan Islam, di bawah Paman Xi, China menampilkan wajah sosialisme yang berbeda.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 11 Januari 2019  |  16:53 WIB
Islam, Paman Xi dan Jalan Baru Sosialisme China
Xi Jinping - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – China terus menjadi perhatian dunia. Setelah “hampir memenangkan” perang dagang dengan Amerika Serikat, China pun melakukan terobosan baru: menyelaraskan Islam dengan sosialisme.

China mengesahkan undang-undang baru dengan menjadikan agama Islam setara (compatible) dengan sosialisme.

Produk legislasi tersebut akan memandu praktik menjalankan agama pada saat pemerintah mengambil tindakan keras terhadap simbol dan penganut Islam.

Surat kabar berbahasa Inggris terkemuka di China, Global Times, melaporkan pada edisi Sabtu (5/1/2019) bahwa setelah pertemuan dengan perwakilan dari delapan asosiasi Islam, pejabat pemerintah "setuju untuk membimbing Islam agar kompatibel dengan sosialisme dan menerapkan langkah-langkah untuk mengatur agama”.

Tak hanya dalam kaitannya dengan Islam, di bawah Paman Xi, China menampilkan wajah sosialisme yang berbeda.

Hal itu paling tidak bisa ditelusuri dari pidato Xi Jinping pada Rabu 18 Oktober 2017. Xi menetapkan visi percaya diri untuk negara yang lebih makmur dan perannya di dunia. Ia juga menekankan pentingnya memusnahkan korupsi dan mengekang kelebihan kapasitas industri, ketimpangan pendapatan, dan polusi.

Membuka kongres Partai Komunis yang kritis, Xi berjanji untuk membangun "negara sosialis modern" untuk "era baru" yang akan dengan bangga menjadi China dan diperintah dengan mantap oleh partai tetapi terbuka bagi dunia.

Xi memang tidak berbicara tentang rencana reformasi politik. Ia lebih menekankan pada pembangunan China yang telah memasuki "era baru". Tak tanggung-tanggung, Xi menggunakan frasa "era baru" itu hingga 36 kali dalam pidato yang berlangsung hampir 3,5 jam.

 "Dengan kerja keras selama puluhan tahun, sosialisme dengan karakteristik China telah melewati ambang menuju era baru," kata Xi.

Xi yang berusia 64 tahun, yang secara luas dianggap sebagai pemimpin Tiongkok paling kuat sejak Mao Zedong, berbicara kepada lebih dari 2.000 delegasi di Aula Rakyat Besar berkarpet merah di Beijing, termasuk mantan presiden Jiang Zemin yang sudah berusia 91 tahun.

Ekonomi China

Xi mengisyaratkan bagaimana China akan tampil di masa depan. Demi memperkuat kepercayaan diri sekaligus menjadi negara yang terbuka pada dunia internasional.

Xi mengatakan China akan melonggarkan akses pasar untuk investasi asing, memperluas akses ke sektor jasa dan memperdalam reformasi berorientasi nilai tukar dan sistem keuangannya, sembari pada saat yang sama memperkuat perusahaan-perusahaan negara.

Selama masa jabatan pertama Xi, China memang mengecewakan banyak investor yang berharap Negeri Panda itu melonggarkan politik tirai bambunya dan mendorong reformasi yang lebih berorientasi pasar

Pernyataan Xi soal pelonggaran akses pasar dan rencana langkah ekonomi lainnya disambut positif kalangan internasional.

Kamar Dagang Uni Eropa di China mengatakan menyambut komitmen untuk membuka pintu lebih luas dan memperlakukan semua perusahaan secara adil. Meski begitu, mereka juga menyebutkan soal janji-janji “PHP” yang membuat letih perusahaan Eropa yang beroperasi di China.

Janji Xi membawa China sepenuhnya terlibat dengan dunia menjadi salah satu pegangan bagaimana jalan baru sedang dibangun.

 “Tidak ada negara yang dapat mengatasi sendiri banyak tantangan yang dihadapi umat manusia; tidak ada negara yang mampu mengasingkan diri, ”kata Xi kepada para delegasi, di antaranya biksu Buddha, peraih medali Olimpiade, petani dan setidaknya satu astronot.

Xi menetapkan tujuan jangka panjang pembangunan Tiongkok. Ia memproyeksikan China sebagai negara "sosialis modern" dan menjadi angka tahun 2035 sebagai tonggak. Tonggak kedua yang dipancangkan Xi adalah China menjadi "kekuatan utama" sosialisme modern di panggung dunia pada tahun 2050.

Kebijakan "belt and road" dan kehadiran Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) bisa menjadi jalan dan proxy bagi penguatan pengaruh ekonomi dan politik China di berbagai belahan dunia. Selain itu, berbagai perusahaan global China plus penguasaan sejumlah aset dan korporasi global di dunia bisa mendukung berbagai rencana masa depan China.

Kontradiksi Internal

Di balik semangat menjadi negara “sosialis utama” di dunia, secara internal tampaknya Xi tidak akan mengubah wajah politik dalam negeri China.

Dia memberi isyarat bahwa tidak akan ada reformasi politik yang signifikan. Xi menyebut sistem China sebagai cara yang paling luas, paling asli, dan paling efektif untuk melindungi kepentingan rakyat.

"Kita seharusnya tidak hanya meniru sistem politik negara-negara lain secara mekanis," katanya. "Kita harus dengan teguh menjunjung tinggi dan meningkatkan kepemimpinan partai dan membuat partai tetap kuat."

Sejauh ini dunia masih belum bisa memperkirakan akan seperti apa wajah China di masa depan. Begitu pula, jika Xi tak lagi memimpin China, apakah sosialisme era baru akan benar-benar terwujud atau China akan menampilkan wajahnya yang berbeda lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, islam

Sumber : Reuters

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top