Pengamat: Capres Miskin Narasi, Politik Makin Bising

Lebih dari tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019 berlalu, ruang publik masih cederung diisi oleh kebisingan yang penuh dengan sensasi minus substansi.
John Andhi Oktaveri | 03 Januari 2019 16:09 WIB
Pasangan calon Presiden Joko Widodo-Maruf Amin (kanan) dan pasangan capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berdoa, di sela-sela pengambilan undian nomor urut untuk Pilpres 2019, di kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Lebih dari tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019 berlalu, ruang publik masih cederung diisi oleh kebisingan yang penuh dengan sensasi minus substansi.

Narasi dari kedua capres dan timnya masih berkutat pada isu yang jauh dari substansi. Baik pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf, maupun Prabowo-Sandi sama-sama belum menyentuh isu utama kebutuhan dan problem riil yang dihadapi rakyat.

“Isu-isu murahan ini secara tidak langsung menunjukkan kuliatas dan kapasitas pasangan capres-cawapres yang sekarang sedang bertarung,” ujar pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago, Kamis (3/1/2019). 

Menurut analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut, kedua pasangan capres-cawapres seperti gamang untuk menyampaikan visi, misi dan program nyata yang akan ditawarkan kepada pemilih.

“Situasi ini pada akhirnya membuat kita curiga, jangan-jangan kedua capres-cawapres ini memang tidak punya kapasitas yang memadai untuk berdebat dalam hal-hal yang lebih substansial,” ujarnya.

Pangi menyayangkan kedua kandidat lebih suka melakukan hal yang remeh temeh dan tetek bengek sebagaimana munculnya isu Genderuwo dan Tampang Boyolali, Tes Baca Alquran. Belum lagi isu terakhir yang membuat bising, isu kontainer berisi kertas suara yang sudah dicoblos.

Lebih parahnya lagi situasi ini menular pada tim sukses dan juru bicara dari kedua tim. Kedua tim sepertinya lebih suka melakukan pembelaan secara mati-matian ketimbang memberikan saran dan masukan yang lebih produktif dan berbobot pada jagoannya. 

Kedua tim melakukan pembelaan membabi buta, bahkan terkadang melakukan perdebatan yang tidak pantas dipertontonkan di hadapan publik. Mulai dari pemilihan kata, menyerang karakter dan pribadi seseorang sampai pada caci maki.

Setali tiga uang, penyakit politisi ini juga menular pada masyarakat secara luas akibat terpapar tontonan tidak mendidik. Apalagi mereka yang muncul di depan publik dari politisi dan para juru bicara ‘kemarin sore’ yang miskin dialektika dan retorika berpikir.

"Kalau kenyataan itu tak terhindarkan maka tidak heran jika terjadi pembelahan sosial yang semakin tajam di masyarakat. Tentunya hal itu sangat tidak produktif jika dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut," ujar Pangi.

Pangi menilai pangkal perkara dari situasi tersebut adalah dangkalnya narasi, literasi dan imaginasi dari kedua kubu capres-cawapres dalam menghadapi arena kontestasi politik yang bernama Pilpres 2019.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
capres, Pilpres 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup