Kuat di Media Sosial, jadi Alasan Prabowo Tak Andalkan Media Mainstream

Calon presiden Prabowo Subianto kembali geram dengan media massa mainstream atau media massa besar yang digunakan masyarakat mendapatkan informasi.
Muhammad Ridwan | 05 Desember 2018 19:03 WIB
Prabowo Subianto menghadiri acara Hari Disabilitas INternasional di Jakarta, Rabu (5/12). JIBI/BISNIS - Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA — Calon presiden Prabowo Subianto kembali geram dengan media massa mainstream atau media massa besar yang digunakan masyarakat mendapatkan informasi.

Usai acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Prabowo menolak diwawancarai oleh beberapa media.

Bukan kali pertama, sebelumnya pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 ini juga memboikot saluran televisi swasta Metro TV karena pemberitaan yang disampaikan tidak berimbang dan hanya memihak lawan politiknya.

Abdul Kadir Karding, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, menilai kekuatan Prabowo-Sandi berada di media sosial, sehingga sering kali mengabaikan media massa mainstream.

Menurutnya pihak lawan lebih sering melakukan propaganda pada media sosial ketimbang di media massa mainstream.

Lebih jauh, Karding mengklaim sebanyak 30% informasi yang beredar di media sosial adalah informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.  Untuk itu masyarakat perlu cermat untuk memilah informasi yang didapat dari media sosial.

“Kalau media mainstream dan pers lain itu mudah dikontrol publik, tapi kalau medsos (media sosial) itu banyak modus yang bisa dipakai untuk menggelembungkan percakapan, view nya dan sebagainya,” ujarny, Rabu (5/12/2018).

Terkait tudingan Prabowo tentang media mainstream yang banyak menyebarkan berita bohong, Karding menyinggung Prabowo seperti sedang lempar batu sembunyi tangan.

“Yang biasa sampaikan hoax Pak Prabowo kan. sekarang menuduh pers, saya kira ini cara menutupi kelemahan pribadinya saja,” pungkasnya.

Ia pun menyayangkan pernyataan Prabowo yang menilai pers sebagai lembaga yang merusak demokrasi.

Padahal menurut Karding, Prabowo dan Partai Gerindra dibesarkan tak lepas dari peran media massa mainstream.

“Saya kira Pak Prabowo besar dan Partai Gerindra besar itu karena pers. Oleh karena itu tidak sepatutnya pers diperlakukan seperti itu,” ucapnya.

Tag : prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top