Tencent Manfaatkan Gencatan Senjata Perang Dagang untuk IPO

Tencent Music Entertainment siap meluncurkan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang menargetkan US$1,2 miliar pada Senin (3/12/2018).
Dwi Nicken Tari | 04 Desember 2018 12:00 WIB
Logo Tencent - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Tencent Music Entertainment siap meluncurkan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang menargetkan US$1,2 miliar pada Senin (3/12/2018).

Hal itu dilakukan perusahaan setelah pasar saham menguat pascapertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu di Argentina, yang berhasil mengurangi tensi dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Berdasarkan dokumen filling yang dimasukkan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS, bisnis musik dari raksasa teknologi Tencent Holdings tersebut ingin meraup sekitar US$1,07—US$1,23 miliar lewat IPO di New York Stock Exchange (NYXE)

Sebelumnya Reuters sempat melaporkan bahwa rencana awal perusahaan untuk meluncurkan IPO adalah pada pertengahan Oktober silam.

Namun, Tencent Music memutuskan untuk menunda IPO karena khawatir aksi-jual di pasar saham global dalam beberapa bulan terakhir dapat mempengaruhi harga.

Oleh karena itu, keputusan AS dan China untuk melakukan gencatan senjata perang dagang dalam 90 hari langsung melonjakkan saham-saham di Asia pada awal perdagangan pekan ini karena setidaknya pasar menjadi lega.

Selanjutnya, berdasarkan dokumen filling tadi, raksasa layanan music streaming tersebut akan menjual American Depositary Receipts (ADRs) sebanyak 82 juta dengan kisaran harga masing-masing sebesar US$13 dan  US$15.

Tencent Music akan membuka pembukuannya pada 4 Desember 2018 dan sahamnya mulai diperdagagkan pada 12 Desember 2018. Bertindak sebagai sponsor utama kesepakatan tersebut adalah Bank of America, Deutsche Bank, Goldman Sachs, JPMorgan, dan Morgan Stanley.

Tencent Music dapat menjual tambahan sebanyak 12,3 juta saham jika opsi over-allotment diambil.

Adapun sebenarnya, dana yang diincar sebesar US$1,23 miliar tersebut lebih rendah daripada target awal yang disebutkan sebesar US$2 miliar, walaupun sebenarnya perusahaan tidak pernah memberikan konfirmasi.

Seorang sumber yang mengerti dengan keputusan aksi korporasi tersebut, tujuan Tencent Music untuk mengebut IPO bukan karena perusahaan menginginkan dana segar secepatnya. Akan tetapi, lebih kepada kekhawatiran tensi dagang antara AS dan China dapat kian memburuk ke depannya.

“Tidak layak untuk menanti lebih lama lagi untuk potensi valuasi yang lebih tinggi jika mereka  [AS dan China] harus menyepakati ketidakpastian yang sangat banyak,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip Reuters, Selasa (4/12/2018).

Namun demikian, IPO senilai US$1,23 miliar tetap menjadi salah satu aksi korporasi perusahaan China terbesar di AS pada tahun ini.

Nilai tersebut masih dekat dengan nilai IPO iQiyi, perusahaan video streaming asal China, senilai US$2,4 miliar pada Maret dan IPO dari Punduodo sebesar US$1,6 miliar pada Juli.

Berdasarkan data Refinitiv, secara total di sepanjang tahun ini, perusahaan China telah meraup dana segar senilai US$7,8 miliar dari IPO di Negeri Paman Sam.

Lebih lanjut, berdasarkan sumber yang mengerti dengan jalannya diskusi, Tencent Music menargetkan valuasi perusahaan menjadi US$22 miliar dan US$25 miliar. 

Nilai tersebut pun kira-kira setara dengan mitra music streaming-nya di Swedia, Spotify Technology, yang melantai di New York pada April dengan kapitalisasi pasar sebesar US$24,3 miliar.

Tencent Music, yang memiliki kesepakatan cross shareholding dengan Spotify, menawarkan layanan yang lebih membawa interaksi sosial untuk penggunanya sebagai upaya menambah laba.

Perusahaan melaporkan, laba korporasi telah melonjak 244% pada sembilan bulan pertama pada tahun ini menjadi US$394 juta dari US$114 juta pada periode yang sama pada tahun lalu. 

Sebagai perbandingan, Spotify mencatatkan kerugian bersih sebesar US$520 juta pada periode Januari—September.

Tag : ipo, tencent, perang dagang AS vs China
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top