Trump Berencana Ajak Putin dan Xi Bertemu Bertiga. Ini Tema Bahasannya

Presiden AS Donald Trump ingin bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden  China Xi Jinping. Pertemuan tiga pimpinan negara itu akan dijadikan jalan bagi Trump untuk membahas soal perlombaan senjata antarnegara yang \"sudah tidak terkendali.\"
John Andhi Oktaveri | 04 Desember 2018 10:10 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA--Presiden AS Donald Trump ingin bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden  China Xi Jinping. Pertemuan tiga pimpinan negara itu akan dijadikan jalan bagi Trump untuk membahas soal perlombaan senjata antarnegara yang "sudah tidak terkendali."

"Saya yakin bahwa pada satu titik di masa depan, Presiden Xi dan saya, bersama Presiden Putin dari Rusia, akan mulai berbicara mengenai penghentian perlombaan senjata yang sudah tak terkendali," ujar Trump melalui akun Twitter pribadinya sebagaimana dikutip CNN.com, Selasa (4/12/2018).

Merujuk pada perlombaan anggaran senjata negara-negara besar, Trump kemudian menulis, "AS menghabiskan 716 dolar tahun ini. Gila!"

Kicauan itu diunggah pada Senin (3/12), sekitar dua bulan setelah Trump mengumumkan bahwa dia berencana menarik AS dari Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah (INF) yang disepakati dengan Rusia pada Perang Dingin.

Perjanjian tersebut melarang pembuatan rudal nuklir dengan jangkauan 500 hingga 5.000 kilometer. Trump ingin menarik diri karena menganggap Rusia melanggar perjanjian ini selama beberapa tahun belakangan.

Akan tetapi, para pejabat Moskow justru menuding AS melakukan "pelanggaran mencolok" terhadap perjanjian itu. Putin pun mengatakan bahwa wacana AS untuk menarik diri itu dapat memicu "situasi berbahaya."

Trump melontarkan pernyataan ini tak lama setelah bertemu dengan Xi Jinping di sela konferensi tingkat tinggi G20 di Argentina.

China sendiri bukan bagian dari perjanjian tersebut. Namun, sejumlah pengamat menganggap batas waktu pasti penarikan diri AS belum pasti sehingga dapat membuka kemungkinan solusi baru yang bisa saja melibatkan China.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top