Trump dan Xi Jinping Sepakat untuk 'Gencatan Senjata' Perang Dagang

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk memasuki masa gencatan senjata dalam perang dagang.
Dwi Nicken Tari | 02 Desember 2018 11:02 WIB
Presiden China Xi Jinping (kanan) berinteraksi dengan Presiden AS Donald Trump didampingi Melania Trump. (Reuters)

Bisnis.com, JAKARTA—Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk memasuki masa “gencatan senjata” dalam perang dagang.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan, kedua pemimpin telah sepakat untuk menghentikan pemberlakuan maupun pengumuman tarif baru selama perundingan masih berlangsung.

Gedung Putih pun menilai pertemuan Trump dan Xi dalam perjamuan makan makan di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, pada akhir pekan lalu berjalan dengan “sangat sukses”

Trump setuju tidak akan menaikkan tarif untuk produk impor asal China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10% pada 1 Januari 2018, seperti yang direncanakan sebelumnya.

Sebagai penawarnya, Beijing sepakat akan membeli sejumlah, kendati tidak spesifik tapi sangat substansial, produk pertanian, energi, industri, dan produk lainnya dari AS.

Selain itu, AS juga ingin segera memulai perundingan dengan China untuk menyelesaikan masalah yang dikeluhkan oleh Trump selama ini, yaitu tentang praktik perdagangan tidak adil, pencurian kekayaan intelektual, hambatan nontarif, dan pencurian siber yang dilakukan China.

Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menyampaikan, perundingan tersebut diharapkan dapat rampung dalam 90 hari ke depan.

Jikalau tidak terdapat kemajuan, dia menambahkan, AS akan tetap dengan rencana semula yaitu menaikkan tarif menjadi 25%.

“Ini merupakan pertemuan yang luar biasa dan produktif, dengan kemungkinan yang tidak terbatas bagi AS dan China. Saya sangat bangga bisa bekerja sama dengan Presiden Xi,” kata Trump melalui pernyataan, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (2/12/2018).

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow juga menilai pertemuan tersebut berjalan sangat lancar karena memberikan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk mengklaim kemenangan masing-masing; China mendapat penundaan tarif dan AS mendapatkan pembelian produk.

“Tidak ada pihak yang permintaan maksimumnya terkabul, ini bukan pertama kalinya hubungan AS-China sama-sama mendapatkan kemenangan. Keduanya menghindari skenario terbutuk,” kata Michael Pillsbury, Mitra Senior di Hudson Institute yang juga mantan pejabat pertahanan di masa pemerintahan Ronald Reagan dan George W. Bush.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top