Peneliti Bahasa: Pengunggah Video "Tampang Boyolali" Lakukan Pembodohan Publik

Peneliti Bahasa: Penunggah Video "Tampang Boyolali" Lakukan Pembodohan Publik
Aziz Rahardyan | 10 November 2018 02:01 WIB
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA — Keiuhan atas ungkapan “tampang Boyolali” yang bersumber dari pidato calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto dinilai tidak diperlukan sebab cenderung membodohi publik.

Peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) Rahmat Petuguran mengungkapkan hal tersebut kepada Bisnis, Jumat (9/11/2018).

Rahmat menilai ucapan “tampang Boyolali” menjadi kontroversi sebab dipisahkan dengan konteksnya. Dalam hal ini, pengunggah potongan video pidato Prabowo itulah aktor utama di balik pembodohan publik yang dimaksud Rahmat.

"Ya, menurut saya pengunggah video itu telah melakukan pembodohan publik," ungkap Rahmat ketika dikonfirmasi.

Penulis buku Politik Bahasa Penguasa ini menjelaskan ketika dipisahkan dengan konteksnya, sebuah ucapan bisa memiliki arti yang sama sekali berbeda.

“Dalam ilmu linguistik, konteks berkaitan dengan dua hal yaitu koteks dan konteks itu sendiri. Koteks [co-text] berarti hubungan antarteks dengan teks lain dalam sebuah wacana, baik teks yang mendahului maupun teks yang menyertainya, sedangkan konteks berarti latar sosial yang mendukung tuturan itu dihasilkan,” jelas Rahmat.

Sebuah ucapan bisa memiliki setidaknya tiga jenis makna yaitu makna leksikal, gramatikal, dan kontekstual. Makna leksikal berkaitan dengan arti harfiah kata demi kata sesuai kamus. Arti gramatikal merupakan arti setelah kata-kata disusun dalam kalimat tertentu. Adapun makna kontekstual, berkaitan dengan latar sosial ketika ucapan dihasilkan.

Sebab itulah, Rahmat yang kini rutin menulis kolom bahasa di surat kabar ini mengingatkan, ucapan harus dipahami secara kontekstual agar dapat dipahami secara mendalam.

"Harus melihat ucapan tersebut diucapkan siapa, kepada siapa, dengan tujuan apa, dan latar sosial seperti apa," tambahnya.

Menurutnya keriuhan akibat ucapan “tampang Boyolali” terjadi karena ucapan itu telah dipotong atau dijauhkan dari konteksnya. Dalam ilmu bahasa, gejala itu bisa disebut sebagai dekontekstualisasi.

Kondisi demikian, menurut Rahmat sama dengan keriuhan yang disebabkan oleh ungkapan yang pernah diucapkan Basuki Tajahja Purnama atau Ahok.

Pada kasus tersebut, sebuah ucapan sengaja dipotong dan dipisahkan dengan ucapan yang mendahului dan menyertainya. Pemotongan ini membuat makna sebuah ucapan bergeser atau bahkan sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

“Permainan politik [memanfaatkan dekontekstualisasi] ini kekanak-kanakan. Ini bisa membuat masyarakat justru teralihkan perhatiannya dari isu-isu penting yang harus jadi perhatian bersama,” ujar Rahmat.

Ia berharap, keriuhan akibat pemotongan ucapan tidak terjadi lagi karena tidak mencerdaskan masyarakat.

"Kubu petahana maupun kubu penantang harus bisa menawarkan gagasan yang produktif. Bangsa Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, dan budaya. Mestinya masalah-masalah itu yang jadi perhatian,” tutup Rahmat.

Sebelumnya Dakun, seorang pria kelahiran Boyolali melaporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya pada Jumat (2/11/2018) sebab mengaku tersinggung dan mendapatkan kerugian imateriil atas pidato "tampang Boyolali" tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyatakan pihak kepolisian kini fokus melakukan penyelidikan untuk menemukan ada tidaknya unsur pidana dalam kasus ini.

"Nanti kita cek apakah ini nanti pidana atau bukan. Kalau itu bukan pidana, akan kita hentikan penyelidikan ini," ujar Argo pada Senin (5/11/2018).

Tag : Pilpres 2019
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top