Banjir Sambangi Kabupaten Bandung, Pendapatan Penarik Delman Meningkat

Blessing in disguise, begitu kira-kira yang terjadi dengan para kusir atau penarik delman di wilayah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Mereka mendapatkan berkah dari bencana banjir yang terjadi. Meski banjir bukan hal yang diinginkan, para kusir delman itu berkesempatan memperoleh peningkatan pendapatan.
Newswire | 08 November 2018 15:45 WIB
Sejumlah warga menggunakan jasa transportasi delman berusaha melintasi genangan banjir di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jabar, Senin (3/3/2014). - ANTARA/Fahrul Jayadiputra

Bisnis.com, BANDUNG - Blessing in disguise, begitu kira-kira yang terjadi dengan para kusir atau penarik delman di wilayah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Mereka mendapatkan berkah dari bencana banjir yang terjadi. Meski banjir bukan hal yang diinginkan, para kusir delman itu berkesempatan memperoleh peningkatan pendapatan.

Seperti biasa, saat musim penghujan tiba, kawasan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dekat dengan bantaran Kali Citarum mendapat kunjungan tamu musiman berupa banjir. 

Saat banjir melanda kawasan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, para penarik delman yang biasa mangkal di Jalan Dayeuhkolot pun berkesempatan mendapatkan peningkatan pendapatan dibandingkan dengan hari biasa.

Para penarik delman yang sehari-hari mangkal di Pasar Dayeuhkolot pun bergeser ke arah wilayah terdampak banjir seperti ke Jalan Andir-Ciputat. Saat banjir mereka mampu menarik hingga delapan kali terutama saat jam pergi dan pulang kerja.

"Banyak yang naik delman, meski kejadian banjir ini tidak diharapkan," ujar salah satu penarik delman, Ujang Koswara, Kamis (8/11/2018).

Ujang mengatakan, banjir tiap tahunnya selalu menggenangi wilayah Andir terutama saat musim penghujan. Karena lokasinya dekat dengan bantaran Sungai Citarum, banjir membawa material lumpur setinggi 3 hingga 5 cm.

Lumpur ini merupakan bekas dari pengerukan sungai Citarum yang masih tersisa. Saat hujan pada Rabu sore hingga malam membuat sisa pengerukan itu terbawa air dan menjadi lumpur.

Akibat adanya lumpur tebal, akses jalan sulit untuk dilalui oleh pejalan kaki. Pengendara motor pun memilih jalur alternatif daripada harus memaksakan melintasi genangan lumpur. Satu-satunya akses hanya bisa menggunakan delman.

"Satu kali narik Rp5.000, tapi itu pun hanya sampai ke beberapa wilayah, soalnya kalau terus ke dalam ke daerah Ciputat, banjir sampe betis orang dewasa," kata dia.

Setelah akses dirasa tidak mampu lagi dijangkau delman, warga bisa melanjutkan perjalanan menggunakan perahu kayu.

Satu perahu mampu menampung enam hingga delapan orang. Untuk satu kali perjalanan mereka harus membayar Rp3.000 ke lokasi yang akan dituju.

"Setiap banjir aktivitas kami kayak gini. Naik perahu buat ke rumah," ujar Siti Rohmah, salah satu warga yang sedang menunggu perahu.

Siti mengatakan, banjir saat ini memang belum setinggi seperti pada awal 2018. Namun genangan diprediksi akan terus meninggi seiring baru mulainya musim penghujan.

Ia pun menagih janji pemerintah daerah dan pusat untuk menyelesaikan masalah banjir Citarum ini.

"Katanya banyak program untuk Citarum, tapi hasilnya sama saja, ga ada yang berubah. Kami selalu kebanjiran kalau musim hujan," kata dia.

Sumber : Antara

Tag : banjir, kabupaten bandung
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top