China jadi Negara Pemilik Obligasi Terbesar yangTertekan

Dalam rentang 11 bulan, China telah berubah dari negara yang tidak memiliki obligasi korporasi berdenombinasi dolar AS yang tertekan menjadi negara yang memiliki distressed dollar-denominated corporate bonds terbanyak dibandingkan negara pasar berkembang (emerging market) lainnya.
Dwi Nicken Tari | 08 November 2018 13:09 WIB
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Dalam rentang 11 bulan, China telah berubah dari negara yang tidak memiliki obligasi korporasi berdenombinasi dolar AS yang tertekan menjadi negara yang memiliki distressed dollar-denominated corporate bonds terbanyak dibandingkan negara pasar berkembang (emerging market) lainnya.

Berdasarkan indeks Barclays Bloomberg, China memiliki 15 obligasi yang opsi-penyesusaian (option-adjusted)-nya terhadap Treasury AS berada di atas 1000 bps per 6 November 2018. 

Adapun posisi tersebut menempatkan China sebagai pemilik utang koporasi tertekan yang lebih banyak dibandingkan kombinasi kepemilikan obligasi tertekan negara-negara lain.

Bloomberg mencatat pada Kamis (8/11/2018), eskalasi perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi telah membuat sektor korporasi yang memiliki leverage tinggi di China menjadi meregang. 

Pengembang properti pun khususnya menghadapi lonjakan biaya pinjaman karena tekanan pembiayaan ulang (refinancing) kian intensif di tengah-tengah upaya pemerintah mengendalikan harga perumahan.

Berdasarkan data Bloomberg, setidaknya terdapat empat perusahaan properti yang memiliki default utang pada tahun ini di China.

Investor pun ke depannya masih bersiap untuk lebih banyak perusahaan seperti Evergrande Group, yaitu pembangun properti terbesar kedua di China berdasarkan penjualannya, yang menghargai obligasi dolarnya sebesar 13,75% pada pekan lalu, atau suku bunga tertinggi yang pernah dibayarkannya untuk penerbitan obligasi dolar AS.

Adapun utang China, baik yang tertekan maupun sebaliknya, berkontribusi atas seperempat dari semua surat berharga yang termasuk dalam pengukuran. Oleh karena itu, Asia pun dikenal sebagai rumah bagi pasar obligasi terbesar di dunia yang sedang berkembang.

Lebih lanjut, lonjakan obligasi tertekan di China tersebubt turut mendorong kenaikan biaya pinjaman untuk utang perusahaan emerging market ke level tertingginya dalam lebih dari dua tahun.

Sementara itu, dampak dari perang dagang terhadap negara-negara Asia kian memperparah tekanan untuk aset berkembang, yang reli di bawah tegangan akibat kenaikan suku bunga AS dan yield obligasi AS.

Adapun Brazil menjadi negara yang memiliki obligasi tertekan terbanyak nomor dua dalam indeks tersebut, disusul oleh Jamaica dan Rusia di posisi tiga.

Adapun utang yang dikelompokkan sebagai tertekan adalah jika spread-nya berada di atas tingkat bebas risiko, yaitu 1.000 bps atau lebih.

Selain itu, terdapat pula pertumbuhan angka spread obligasi bertenor di bawah 5 tahun milik perusahaan yang memasuki zona berbahaya.

Pada tahun ini, terdapat 12 obligasi di indeks Barclays Bloomberg yang spread penyesuaian opsi-nya berada di rentang 800—999 bps, atau naik dari hanya 2 pada akhir 2017.

Tag : Obligasi, ekonomi china
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top