Kisah Boyolali dan Unforced Error Kampanye Pilpres 2019

Masa kampanye yang panjang menjelang Pilpres 2019 memberi peluang kepada masing-masing kubu capres - cawapres untuk menyusun strategi kampanye. Namun, saat berkampanye bisa jadi muncul kesalahan sendiri, tanpa tekanan pihak lawan, karena adrenalin tiba-tiba menggelegak.
Saeno | 06 November 2018 23:01 WIB
Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Masa kampanye yang panjang menjelang Pilpres 2019 memberi peluang kepada masing-masing kubu capres - cawapres untuk menyusun strategi kampanye.

Namun, saat berkampanye bisa jadi muncul kesalahan sendiri, tanpa tekanan pihak lawan, karena adrenalin tiba-tiba menggelegak. 

Salah ucap, konon tadinya hanya dimaksudkan sebagai guyonan, yang dilontarkan capres Prabowo Subianto adalah salah satu contohnya. Belakangan respons soal wajah Boyolali masih menjadi perbincangan, terutama di media sosial.

Gara-gara menyebut, kurang lebih, soal wajah-wajah Boyolali yang akan diusir jika masuk ke hotel mewah di Jakarta, Prabowo mendapat banyak komentar negatif.

Ragam komentar mulai dari guyonan dan sindiran di media sosial hingga tindakan karikatural seperti rencana paguyuban orang Boyolali mengadakana acara di hotel mewah di Jakarta.

Tak jelas benar apakah acara warga Boyolali itu jadi dihelat di hotel mewah di Jakarta atau tidak. Tapi, substansi dari semua itu adalah betapa bahayanya saat seseorang salah berbicara di depan publik apalagi terkait kampanye dan Pilpres 2019.

Kesalahan sedikit saja, gara-gara salah memproduksi kalimat, membuat si pelaku bagaikan melakukan unforced error. Membuat kesalahan sendiri, bukan karena ditekan lawan.

Ibarat sebuah laga final bulutangkis dengan sistem rally point, unforced error itu membuat lawan menang selangkah dan berpotensi menggandakan kemenangan menjadi dua atau bahkan tiga langkah di depan.

Pihak yang kalah tentu dituntut segera bisa memperbaiki diri dan membalikkan keadaan.

Tapi sebelum itu terjadi, pihak yang melakukan kesalahan mau tidak mau akan dihujani berbagai serangan, sehalus apa pun serangan itu.

Tengok saja misalnya bagaimana Hasto Kristiyanto menyebut kasus Boyolali sebagai pelajaran penting untuk pemimpin agar disiplin berbicara.

Hasto menyebutkan, gerakan warga Boyolali yang geram dengan pernyataan Prabowo Subianto harus menjadi pelajaran penting tentang  pemahaman budaya timur dan tata krama dalam politik.

“Apa yang disampaikan Pak Prabowo hanya pas dalam budaya barat,” ujar Hasto seperti disampaikan dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa (6/11/2018).

“Mungkin karena Pak Prabowo lama hidup di luar negeri sehingga tidak memahami tepo sliro dalam budaya Jawa, ataupun kurang paham budaya Indonesia karena masa kecilnya dibesarkan di negara barat," ujar Hasto.

Ia pun kembali menggarisbawahi agar semua pihak sebaiknya mengambil pelajaran bahwa di dalam politik disiplin berbicara dan pemahaman kuktur bangsa merupakan hal yang sangat penting. 

Selengkapnya silakan baca: Hasto: Kasus Boyolali Pelajaran Penting Agar Pemimpin Disiplin Berbicara

Selintas, apa yang disampaikan Hasto berada dalam tataran yang wajar. Ia menyebut soal keniscayaan dan hal yang mestinya bisa dihindari.

Namun, jika dibaca lebih perlahan dan diselami nuansa bahasanya, kita akan mafhum bahwa Hasto sedang mencubit....dengan cukup dalam.

Pilpres 2019 masih beberapa bulan ke depan. Masih ada waktu bagi masing-masing kubu menata dan mempetajam jurus kampanyenya masing-masing.

Satu hal yang penting diperhatikan, semoga tak ada lagi kejadian salah ucap yang membuat tujuan kampanye untuk meraih simpati menjadi berantakan. Kecuali, kalau memang, ada di antara kubu capres-cawapres yang memang mengandalkan kesalahan sebagai cara untuk tetap dikenang. (Catatan: Tulisan ini adalah resepsi pribadi)

Tag : jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top