KABAR GLOBAL: Berhasilkah China Raih Momentum?, Pengaruh Pemilu Paruh Waktu AS ke Bursa Diyakini Minim

Berita mengenai memoentum China untuk mendahului AS sebagai pendukung globalisasi serta pengaruh Pemilu paruh waktu AS pada Bursa menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (5/11/2018).
Aprianto Cahyo Nugroho | 05 November 2018 08:45 WIB
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai memoentum China untuk mendahului AS sebagai pendukung globalisasi serta pengaruh Pemilu paruh waktu AS pada Bursa menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (5/11/2018).

Berikut rincian topik utama di sejumlah media nasional:

Berhasilkah China Raih Momentum? Kemenangan Donald Trump dalam Pemilu Presiden AS 2016 dengan janjinya melindungi kepentingan Negeri Paman Sam menggunakan kebijakan ‘America First’ telah menjadi momentum bagi Presiden China Xi Jinping untuk menyabet posisi AS sebagai pendukung globalisasi. (Bisnis Indonesia)

Pemilu Paruh Waktu AS, Pengaruh ke Bursa Diyakini Minim. Amerika Serikat akan menggelar agenda politik besar yakni Pemilu Paruh Waktu, pada Selasa (6/11), waktu setempat. Pemilu tersebut merupakan agenda yang krusial karena akan menjadi awal dari Pemilu Presiden AS 2020. Pasalnya, pemilihan anggota kongres itu akan menjadi penentu partai mana yang akan diuntungkan. (Bisnis Indonesia)

Trump dan Xi Optimistis Menjelang KTT G-20. Sebagaimana perang nuklir di era Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS), perang dagang antara China dan AS seharusnya juga bisa berakhir. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping memperlihatkan optimisme menjelang pertemuan keduanya di sela-sela KTT G20 di Argentina pada 30 November sampai 1 Desember 2018 mendatang. (Kontan)

Kapitalisasi Apple Anjlok. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, indeks Dow Jones turun 0,43% menjadi 25.270,83. Salah satu biang kerok penurunan adalah saham Apple yang melorot 6,63% menjadi US$ 207,48 per saham. (Kontan)

Twitter Hapus 10.000 Akun. Perusahaan sosial media Twitter Inc telah menghapus lebih dari 10.000 akun secara otomatis yang terbukti telah memprovokasi agar warga negara Amerika Serikat (AS) tidak menyumbangkan suaranya dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif AS pada 6 November 2018. Penghapusan ini terjadi pada akhir September dan awal Oktober 2018. (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar global

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top