Iran Sebut Sanksi Ekonomi Baru dari Amerika Akan Ganggu Tatanan Dunia

Menjelang pemberlakuan sanksi ekonomi baru Amerika Serikat terhadap Iran pada 5 November mendatang, Menlu Iran menyebut kebijakan tersebut akan mengganggu tatanan dunia
Iim Fathimah Timorria | 31 Oktober 2018 02:17 WIB
Trump dan Rouhani - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan sanksi ekonomi baru yang akan dilayangkan Amerika memiliki "konsekuensi besar" terhadap tatanan dunia.

Hal tersebut disampaikan Zarif pada Selasa (30/10/2018) beberapa hari menjelang pembaruan sanksi ekonomi Amerika yang akan dimulai pada 5 November mendatang.

Washington sebelumnya memperkenalkan sanksi ekonomi untuk Iran yang mencakup perdagangan mata uang, logam, dan sektor otomotif pada Agustus 2018. Sanksi tersebut diimplementasikan tiga bulan usai Amerika Serikat menyatakan penarikan diri dari kesepakatan nuklir yang ditandatangani lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman (P5+1) dan Iran pada tahun 2015 perihal pembatasan pengembangan nuklir.

Seperangkat sanksi baru pada sektor perbankan dan energi mulai berlaku pada 5 November seiring dengan usaha Presiden AS Donald Trump untuk mengisolasi pembelian minyak dari Iran.

"Sayangnya negara yang melanggar hukum (Amerika Serikat) mencoba menghukum negara yang mematuhi hukum (Iran)... Langkah tersebut memiliki konsekuensi besar bagi tatanan dunia," kata Zarif sebagaimana dikutip kantor berita Iran IRNA saat kunjungannya di Istanbul Turki, pada Selasa (30/10/2018).

Zarif menambahkan bahwa Amerika belum mencapai tujuannya lewat sanksi yang mereka layangkan terhadap Iran.

Pemerintah Iran mengklaim telah sepenuhnya memenuhi kesepakatan dalam perjanjian nuklir. Komitmen tersebut telah dikonfirmasi beberapa kali oleh pengawas dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Pemerintahan Trump memutuskan untuk menarik diri dari perjanjian tersebut. Mereka menilai kesepakatan yang dibuat pada masa Obama itu tidak cukup mengatur pengembangan rudal balistik Iran termasuk peran Republik Islam tersebut dalam konflik regional. Trump juga mengisyaratkan bahwa kesepakatan tersebut tidak memberi jaminan lantaran tidak mengatur apa yang akan terjadi jika kesepakatan kadaluarsa di tahun 2025.

"Komunitas internasional menentang sanksi AS," kata Zarif usai melakukan pertemuan trilateral dengan Turki dan Azerbaijan.

"Negara-negara tetangga dan negara-negara Eropa telah menolak langkah-langkah sepihak Washington," lanjut Zarif sebagaimana diberitakan Reuters.

Negara-negara Eropa yang menyetujui kesepakatan nuklir seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia hingga kini masih berkomitmen melanjutkan perjanjian. Mereka akan meluncurkan serangkaian mekanisme yang dinamakan special purpose vehicle (SPV) untuk menangkal sistem finansial Amerika Serikat dengan menggunakan Uni Eropa sebagai perantara perdagangan dengan Iran.

Korea Selatan selaku importir terbesar minyak Iran di Asia mengatakan pada Selasa pihaknya telah mengajukan permintaan ke Amerika Serikat untuk memberikan fleksibilitas. Permintaan keringanan ini dimaksudkan agar perusahaan asal Korea Selatan tidak terkena dampak sanksi ekonomi Amerika Serikat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran

Sumber : Reuters
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top