Pilpres 2019: Strategi Baru, Lawan Lama

Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sedang mengulang persaingannya pada 2014 silam untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Jaffry Prabu Prakoso | 31 Oktober 2018 20:19 WIB
Dua kandidat calon presiden di Pilpres 2019: Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sedang mengulang persaingannya pada 2014 silam untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Pertarungan kali ini tentu berbeda bagi keduanya selain pemilihan umum yang dilakukan secara serentak.

Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengatakan bahwa strategi yang diembuskan pasangan calon nomor urut 02 ini lebih ke sektor ekonomi.

Menurut Sandi, berdasarkan serapan aspirasi masyarakat menengah ke bawah, publik sama sekali tidak merasakan dampak pembangunan seperti jalan tol, bandara, dan pelabuhan yang dibuat pemerintahan Joko Widodo.

Tidak hanya sampai di situ, mereka yang berpendidikan tinggi juga tak mendapat pekerjaan yang sesuai karena kesempatan dan sulit didapat. 

Bagi Sandi, keadaan yang berat ini harus segera diperbaiki agar daya beli meningkat. Ketika masyarakat mudah berbelanja, perekonomian pasti bisa lebih baik.

“Daya beli, harga mahal, dan pekerjaan yang akan kami terus perjuangkan. Saya yakin dengan pengalaman di dunia usaha bisa membuat kebijakan tenaga kerja jaman now,” kata Sandi.

Masalah inilah terus didiskusikan Badan Pemenangan Nasional Koalisi Indonesia Adil Makmur (BPN KOAM) Prabowo-Sandi. Mereka menggodok tawaran jalan keluar dalam visi misi Prabowo-Sandi yang dinamai Empat Pilar Menyejahterakan Indonesia.

Empat tonggak ini terdiri atas 8 pilar ekonomi, 12 pilar budaya dan lingkungan hidup, 7 pilar politik, hukum, keamanan, dan HAM, serta 9 pilar kesejahteraan rakyat. Semuanya menjadi satu dalam sebutan Indonesia Adil dan Makmur. 

Strategi Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin

Serupa dengan Prabowo-Sandi, Joko Widodo juga punya strategi untuk terpilih kembali menjadi presiden bersama Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden. 

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Arsul Sani menjelaskan bahwa partai pendukung menyiapkan kampanye yang mengantisipasi komentar negatif.

Mereka juga mengisi amunisi kelanjutan Nawa Cita Jilid 2 dengan mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.

TKN mengakui sejak awal ada beberapa masyarakat  tidak ingin calon yang diusung partai koalisinya maju lagi sebagai presiden. Orang yang seperti ini, menurut Arsul, mudah tercekok berita negatif.

Untuk mengantisipasinya, tim sukses pasangan nomor urut 01 ini memberikan fakta pencapaian pemerintah dan dijelaskan melalui penjabaran yang mudah dipahami.

Di sisi lain TKN menghargai tim Prabowo-Sandi yang menyerang Jokowi-Ma’ruf dengan kritis karena lebih elok dan tidak memecah belah bangsa. Akan tetapi, ada satu hal yang dia tunggu yaitu solusi atas kritik tersebut.

“Misalnya sebelah [tim Prabowo-Sandi] hanya memberikan komentar bersifat negatif, tuduhan. Misalnya negatif, mereka bilang ada pembangunan pemerintahan Jokowi tapi itu dari utang dan utang Indonesia menjadi sangat besar. Kita ingin alternatif pembangunan tanpa utang itu apa? Minta masyarakat iuran, nabung, apa? itu yang ingin kita dengar,” ungkapnya.

Evaluasi Mingguan

Wakil Ketua BPN Eddy Soeparno menjelaskan bahwa tim sukses memiliki jadwal pertemuan sesuai dengan bagiannya masing-masing. 

“Setiap direktorat bertemu semingggu sekali. Sekjen partai bertemu seminggu dua kali. Setiap minggu ada rapat pleno badan pemenangan,” ujarnya saat berbincang dengan Bisnis.com.

Eddy menjelaskan bahwa tempat rapat tergantung kesepakatan. Untuk direktorat dibebaskan mencari lokasi yang memungkinkan. 

Sementara itu rapat pleno yang sudah berlangsung selama dua kali berlokasi di kediaman Ketua BPN Djoko Santoso, Bambu Apus, Jakarta Timur. Di sana dirumuskan keputusan strategis dan evaluasi agenda capres cawapres selama seminggu. 

Selama kampanye, BPN menyiapkan strategi yang lebih fokus pada masalah ketimpangan ekonomi. Maka, tidak heran jika selama ini calon wakil presiden yang mereka usung, Sandiaga Uno selalu memberikan komentar ekonomi kerakyatan. 

Kubu Jokowi-Ma’ruf juga demikian. Wakil Ketua TKN Johnny Plate mengungkapkan bahwa setiap minggu selalu ada rapat evaluasi setiap minggu. Pertemuan ini membagi rapat pleno, per bidang, dan per direktorat.

Tempatnya terbagi dua. Untuk urusan komunikasi, politik, dan berhubungan dengan media, lokasi kumpul di Rumah Cemara yang juga menjadi markas Jokowi saat berpasangan bersama Jusuf Kalla pada 2014.

Nah, rapat strategis dilakukan di tempat utama, yaitu High End Building, Kebon Sirih. Pertemuan di sana tidak bisa disampaikan kepada publik. 

“Rapat Kami dijaga kerahasiannya. Bahkan telepon genggam tidak boleh dibawa saat rapat. Ini politik. Hal-hal yang strategis tidak boleh diungkapkan,” ungkap Johnny. 

Kini masing-masing kubu terus menggodok, mengimplementasikan dan mengevaluasi program masing-masing. Siapa yang akan unggul, jawabannya tentu tergantung pilihan rakyat di bilik suara, kelak.

Tag : jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top