China, Turki & India Enggan Hentikan Impor Minyak dari Iran

Beberapa negara importir minyak Iran menolak seruan Amerika Serikat untuk menghentikan impor seiring pemberlakuan sanksi ekonomi baru
Iim Fathimah Timorria | 29 Oktober 2018 20:09 WIB
Trump dan Rouhani - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika menarik diri dari Rencana Aksi Menyeluruh Bersama (JCPOA) dengan Iran, negeri Paman Sam tersebut segera melayangkan sanksi ekonomi baru. Melalui Kementerian Luar Negeri, AS meminta negara-negara dunia untuk menghentikan impor minyak dari Iran.

Strategi tersebut bukan tanpa makna, tujuannya untuk melumpuhkan ekonomi Iran yang bergantung dengan ekspor minyak. Jika importir minyak Iran berhenti melakukan pembelian, Iran setidaknya harus pikir ulang dalam proyek nuklir mereka, sekaligus program misil balistik yang tengah mereka kembangkan dan berhenti mendukung Suriah.

Sanksi ekonomi Amerika akan diperbarui 5 November nanti. Menjelang tanggal tersebut, AS justru harus menghadapi realita yang getir. Tiga dari lima importir minyak terbesar Iran yaitu China, Turki, dan India menolak untuk menghentikan impor. Sebuah sumber menyatakan penolakan tersebut disebabkan ketiga negara merasa suplai minyak dunia tidak mencukupi kebutuhan mereka.

Kementerian Keuangan bersama dengan Kementerian Luar Negeri AS telah menyambangi lebih dari dua lusin negara usai negara tersebut mengundurkan diri dari perjanjian nuklir 8 Mei lalu. Amerika memperingati banyak perusahaan dan negara-negara dunia akan bahaya yang mungkin akan mereka hadapi jika melanjutkan bisnis dengan Iran.

Jepang dan Korea Selatan selaku sekutu Amerika sudah menghentikan pembelian minyak dari Iran, namun kisah berbeda justru muncul dari pemborong minyak lainnya.

Perwakilan khusus Amerika untuk Iran Brian Hook dan diplomat Amerika urusan energi Frank Fannon baru-baru ini bertemu dengan pemerintah India, importir minyak Iran terbesar nomor 2.Pertengahan Oktober Amerika mempertimbangkan keringanan terkait tuntutan penghentian impor.

Seorang sumber dari pemerintah India menyatakan pelemahan nilai rupee dan naiknya biaya kebutuhan energi membuat India tidak mungkin menghentikan impor minyak, setidaknya hingga Maret 2019.

"Kami sudah memberi tahu AS kami tidak bisa menghentikan impor dari Iran ketika alternatif lainnya membutuhkan biaya lebih tinggi," kata sumber tersebut sebagaimana dilansir Reuters pada Senin (29/10/2018).

Menyusul kondisi tersebut, diplomat Amerika Serikat mengonfirmasi kemungkinan diberikannya keringanan pada India dan negara-negara lainnya.

India setidaknya mengimpor 500.000 barel minyak Iran per hari, namun mereka tercatat telah mengurangi pembelian dalam beberapa bulan terakhir.

Amerika juga tengah mendiskusikan hal ini dengan Turki, importir terbesar keempat minyak Iran yang secara terbuka menentang sanksi yang dilayangkan Amerika.

Turki dilaporkan telah memotong setengah dari impornya, terdapat kemungkinan impor dihentikan total, namun Turki memilih melanjutkan.

Kondisi yang lebih rumit muncul dari China, konsumen terbesar minyak Iran. Negara tersebut mengimpor minyak sekitar 500.000 sampai 800.000 barrel per hari beberapa bulan terakhir. Kebijakan Beijing terkait impor minyak asal Iran selama ini tidak menentu.

Minggu lalu Reuters melaporkan Sinopec Group dan China National Petroleum Corp (CNPC) tidak melakukan impor untuk bulan November lantaran khawatir dengan sanksi Amerika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top