Ini Catatan Kecelakaan Lion Air Sejak 2011

Lion Air pernah tergelincir saat akan mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu, (23/10/2011). Insiden pesawat JT 673 itu menyebabkan bandara lumpuh selama tujuh jam.
Jaffry Prabu Prakoso | 29 Oktober 2018 18:19 WIB
Pesawat maskapai Lion Air berada di atas rerumputan bahu landasan pacu dengan kondisi roda pendaratan depan patah di Bandara Djalaludin, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (30/4/2018). - ANTARA/Adiwinata Solihin

Bisnis.com, JAKARTA — Penerbangan Lion Air nomor JT 610 dengan rute Cengkareng menuju Pangkalpinang mengalami kecelakaan setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta pukul 06:20 WIB. Setelah 13 menit mengudara, pesawat jatuh di koordinat S 5’49.052” E 107’ 06.628” atau sekitar Karawang, Jawa Barat.

Ini bukan pertama kalinya maskapai berbiaya murah ini mengalami kendala dalam penerbangan.

Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com, Lion Air pernah tergelincir saat akan mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu, (23/10/2011). Insiden pesawat JT 673 itu menyebabkan bandara lumpuh selama tujuh jam.

Satu setengah tahun kemudian, Minggu (30/10/2012), pesawat Lion Air JT 718 kembali tergelincir. Kali ini di Bandara Supadio, Pontianak.

Insiden pesawat berjenis Boeing 737-400 dengan registrasi PK-LII terjadi usai menyelesaikan proses pendaratan pukul 22.20 WIB.

Pesawat yang membawa 152 penumpang dan 6 awak kabin itu merupakan penerbangan terakhir yang bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta menuju Pontianak.

Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengatakan bahwa kondisi cuaca serupa juga dialami beberapa pesawat yang melakukan pendaratan sebelum JT-718 di antaranya Sriwijaya Air SJ-184 rute sama dan Batavia Air Y6-211 rute Yogyakarta-Pontianak.

Insiden itu terjadi ketika pesawat Lion Air hendak berbelok. Salah satu roda bagian kanan keluar dari landas pacu dan masuk rumput sekitar 200 meter menjelang ujung landasan. Diduga pengaruh landasan yang basah akibat hujan.

Setelah insiden terjadi, Bandara Supadio langsung menjalankan prosedur penanggulangan kondisi darurat dengan menutup landasan dan mengupayakan proses penyelamatan terhadap penumpang.

“Terkait dengan insiden ini, kami sudah merencanakan langkah-langkah ke depan guna mengantisipasi terjadi insiden serupa. Kalau untuk perawatan aspal landasan, secara rutin dan terjadwal selalu dilakukan,” kata Trisno.

Beberapa bulan kemudian, Sabtu (13/4/2013), maskapai mengalami kecelakaan di ujung landasan Bandara Ngurah Rai Bali yang baru beroperasi selama sebulan.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat itu mengatakan bahwa pesawat yang mengalami kecelakaan di Bali itu merupakan pesawat Boeing 737-800 NG.

"Pesawat baru datang Maret dan kita operasikan akhir Maret. Belum lebih dari dua bulan. Baru satu bulan dan mungkin jam terbang baru ratusan jam," ujarnya di Kantor Lion Air di Jakarta.

Tahun berganti, Lion Air kembali mengalami masalah. Rabu (7/8/2013) dini hari pesawat yang di bawah kendali Pilot Iwan Permadi tergelincir di Bandara Jalaluddin Gorontalo. Dia mengira ada anjing di landasan bandara tersebut.

Keterangan foto: Kondisi pesawat Lion Air yang tergelincir di landasan pacu Bandara Djalaludin, di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Minggu (29/4/2018) malam. Pesawat dengan nomor penerbangan JT 892 tergelincir dan keluar landas pacu sesaat setelah mendarat ketika hujan deras, dan 174 penumpang dan tujuh kru selamat pada kejadian tersebut. (ANTARA /Adiwinata Solihin)

"Ternyata itu adalah tiga ekor sapi yang sedang melintas di tengah landasan ketika prosedur mendarat telah dijalankan," ujarnya di Gorontalo,.

Beberapa saat kemudian, terjadi tabrakan pada kecepatan pesawat 40 knot sehingga pesawat tak bisa direm lagi hingga meleset ke luar landasan.

"Beruntung tanah di sekitar landasan becek sehingga pesawat bisa berhenti. Suasana kabin bisa dikontrol, tapi kami sempat melihat ada asap dan bau menyengat seperti daging terbakar," ungkap Iwan.

Menurutnya, kondisi pesawat laik terbang, serta saat akan mendarat di Bandara Jalaluddin pilot memastikan semua prosedur berjalan normal, laporan cuaca bagus, dan komunikasi dengan pihak bandara berjalan lancar.

Sebelum pilot mengumumkan evakuasi, beberapa penumpang sudah turun duluan melalui pintu dan jendela darurat, sehingga terdapat dua orang penumpang yang mengalami cedera patah kaki.

Masalah penerbangan tahunan Lion Air berhenti pada 2014. Tahun selanjutnya yaitu 2015, maskapai milik Rusdi Kirana ini mengalami ledakan mesin pesawat.

Beberapa penumpang penerbangan Lion Air JT 303 rute Medan-Jakarta mengalami cidera di Bandara Kualanamu Medan, Jumat (24/4/2015).

Corporate Secretary Lion Group saat itu Dwiyanto Ambarhidayat mengatakan bahwa peristiwa terjadi pukul 13.00 WIB. Awalnya, pesawat Boeing 737-900ER bernomor registrasi PK-LFT sedang parkir di apron bandara.

“Saat pesawat start engine untuk pushback, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari bagian belakang pesawat,” jelasnya.

Mendengar suara ledakan itu, para penumpang yang telah menaiki pesawat menjadi panik dan segera menyelamatkan diri melalui pintu darurat dan keluar menggunakan sliding slide.

“Sejauh ini beberapa penumpang mengalami cidera ringan dan telah mendapatkan perawatan. Total penumpang berjumlah 214 orang yang terdiri dari 201 penumpang dewasa, tiga anak-anak, tiga bayi dan tujuh awak pesawat,” paparnya.

Setahun kemudian Pesawat terbang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-263 dengan tujuan Balikpapan-Surabaya mengalami over run (tergelincir) di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Sabtu (20/2/2016).

Legal And Communication PT Angkasa Pura Juanda Surabaya Liza Anindya mengatakan bahwa pesawat tersebut mengalami over run di Bandara Internasional Juanda sekitar pukul 11.08 WIB.

"Seluruh penumpang dinyatakan selamat dan saat ini sudah selesai dilakukan proses evakuasi terhadap penumpang tersebut," katanya.

Dari data yang ada, para penumpang tersebut sudah selesai dilakukan evakuasi sekitar pukul 12.00 WIB dan secara keseluruhan selamat serta tidak ada yang terluka.

"Pesawat ini sendiri membawa sebanyak 215 orang penumpang dan saat ini sudah dievakuasi melalui gate 1 dan gate 2 Bandara Internasional Juanda," jelas Liza.

Peristiwa itu menyebabkan Bandara Internasional Juanda untuk sementara ditutup sampai dengan pukul 15.30 WIB.

Tahun ini Lion Air mengalami dua masalah penerbangan. Pertama, Pesawat JT 892 rute penerbangan Makassar--Gorontalo dikabarkan tergelincir keluar landasan pacu (runway) setelah mendarat di Bandara Djalaluddin.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang M. Prihantoro mengatakan bahwa pesawat lepas landas pukul 17.29 WITA dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan (UPG) dan mendarat di Bandar Udara Djalaluddin, Gorontalo (GTO) pada 18.35 WITA.

"Pesawat mengalami keluar landas pacu sesaat setelah mendarat, situasi ini terjadi ketika hujan deras," ucapnya, Minggu (29/4/2018).

Penerbangan tersebut, lanjutnya, membawa 177 penumpang dan tujuh kru pesawat, terdiri dari Capt. Djoko Sigit, kopilot Debi Ade dan awak kabin (flight attendant/ FA) Rima Zaenab, Rani Hartanti, Indriany, Elsa Aprilyani dan Juviny Monica.

Pihaknya menuturkan seluruh penumpang dan kru sudah dievakuasi dengan keadaan selamat. Saat ini mereka sudah berada di ruang terminal bandar udara untuk mendapatkan layanan terbaik.

Sementara itu masalah terbaru adalah kecelakaan yang menimpa pagi ini. Badan SAR Nasional (Basarnas) mengaku sudah mencatat titik lokasi kotak hitam atau black box pesawat Lion Air JT610.

Deputi Operasi Basarnas Nugroho Budi mengatakan bahwa selain fokus untuk melakukan evakuasi korban, pencarian black box juga menjadi fokus tim Basarnas.

"Sampai saat ini belum ditemukan untuk black box-nya. Tetapi dari alat kita sudah memonitor lokasinya, sudah ada," ungkapnya di Kantor Basarnas, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lion air

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top