BNPB : Selama 2018 Terjadi 1.999 Bencana di Indonesia

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa selama 2018, hingga Kamis 25 Oktober 2018 tercatat sebanyak 1.999 kejadian bencana telah terjadi di Indonesia dengan memakan korban hingga ribuan jiwa.
Puput Ady Sukarno | 26 Oktober 2018 01:59 WIB
Masjid Akhram Babul Rahman yang rusak akibat gempa dan tsunami, di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10/2018). Masjid terapung tersebut merupakan icon kota Palu yang terletak di pantai bumi bahari. - Reuters/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa selama 2018, hingga Kamis 25 Oktober 2018 tercatat sebanyak 1.999 kejadian bencana telah terjadi di Indonesia dengan memakan korban hingga ribuan jiwa. 

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang rawan bencana, karena nerbagai bencana selalu menyertai setiap tahunnya.

"Selama 2018, hingga Kamis (25/10/2018), tercatat 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang, karena tren bencana cenderung meningkat dari tahun ke tahun," ujarnya, Kamis (25/10).

Sutopo menerangkan bahwa dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Selain itu, kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana juga cukup besar. Seperti gempa bumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp17,13 triliun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp13,82 triliun. "Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah," ujarnya.

Adapun selama 2018, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26/2/2018 yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. 

Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22/2/2018 yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang. Banjir bandang di Mandailing Natal pada 12/10/2018 menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang. 

Gempa bumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada 29/7/2018, 5/8/2018, dan 19/8/2018 menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi. 

Bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28/9/2018 menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi.

"Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun ini paling besar sejak 2007," ujarnya.

Jumlah kejadian bencana, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana 2016 dan 2017 yaitu 2.306 kejadian bencana dan 2.391 kejadian bencana. Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar.

Selama 2007 hingga 2018, kejadian bencana besar yang menimbulkan korban banyak adalah pada tahun 2009, 2010 dan 2018. Pada 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. 

Dampak bencana selama 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Pada 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010 yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi, dan erupsi Gunung Bromo. 

Dampak yang ditimbulkan bencana selama 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Selama tahun ini, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunung  api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi  yang merusak 17, dan tsunami 1 kali. Gempa bumi yang merusak dan tsunami memang jarang terjadi. Namun saat terjadi gempa bumi yang merusak seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar.

Menurutnya statistik bencana tersebut makin menunjukkan bahwa Indonesia rawan bencana. Secara umumnya tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana-bencana besar belum siap. 

"Mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan," ujarnya.

Pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional. Tanpa itu maka dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa besar kerugian ekonomi yang besar.

Sutopo pun mengingatkan bahwa, saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Dan diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. 

"Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000 – 6.000 kali gempa. Gempabumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya," terangnya.

Tag : bencana alam
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top