Survei: PPP Tidak Mendapatkan Efek Ekor Jas. Ini Penjelasan Romahurmuziy

Hasil survei Populi Center menunjukan PPP tidak mendapatkan efek ekor jas atau coattail effect dari pasangan calon presiden Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin.
Muhammad Ridwan | 25 Oktober 2018 19:29 WIB
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy/JIBI - BISNIS/Wisnu Wage

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil survei Populi Center pada 24 Oktober 2018 menunjukan elektabilitas Partai Persatuan Pembangunan hanya di bawah 3%.

Hasil survei Populi Center tersebut menunjukan PPP tidak mendapatkan efek ekor jas atau coattail effect dari pasangan calon presiden Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin.

Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy yang dikenal dengan sapaan Romy mengatakan bahwa secara teori efek ekor jas hanya berpengaruh kepada partai politik asal calon presiden itu sendiri. Ia menambahkan, saat pemilihan presiden 2009 hal yang sama juga terjadi.

“Jadi saat Pak SBY 2009 itu kan semua partai pengusung SBY turun drastis, PPP hilang 20 kursi, kemudian PKS turun satu juta suara, PKB turun 28 kursi, PAN turun 10 kursi, jadi semua partai yang bukan partai asalnya partai presiden kalau citra presiden itu begitu kuat itu hanya dinikmati oleh satu parpol saja,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/10/2018).

Menurutnya, dari hasil berbagai lembaga survei dan survei internal partainya, hanya dua partai politik yang saat ini mendapatkan efek ekor jas, yaitu Partai Gerindra dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusung tokoh calon presidennya.

Sementara itu, sosok calon wakil presiden belum mampu memberikan efek ekor jas. Menurut Romy, pertarungan pemilihan presiden merupakan pertarungan sosok calon presiden bukan wakilnya. Dengan begitu, yang memberika efek hanyalah sosok calon presidennya.

“Yang kedua ketokohan cawapres itu kan selalu di bawah, biasanya terpaut jauh dari ketokohan seorang capres,” ujar Romy.

Tag : ppp, romahurmuziy, Pilpres 2019
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top