GNR Minta Bawaslu Periksa Prabowo soal Hoaks Ratna Sarumpaet, Seknas Bilang Jangan Baper

Permintaan Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memanggil calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto terkait kasus dugaan penyebaran hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet dinilai salah alamat.
JIBI | 24 Oktober 2018 09:29 WIB
Calon Presiden no urut 02 Prabowo Subianto berjalan keluar dari kediaman Pengageng Pura Mangkunegaran IX di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (13/10). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memanggil calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto terkait kasus dugaan penyebaran hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet dinilai salah alamat.

Presidium Pusat Kajian Isu Strategis Sekretariat Nasional (Seknas) Relawan Prabowo-Sandi, Syarif Achmad mengatakan Ketua Umum Partai Gerindra itu merupakan korban dari informasi fiktif Ratna Sarumpaet.

"Jadi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pak Prabowo," kata Syarif dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Prabowo diketahui menggelar jumpa pers di kediamannya, Jakarta, 2 Oktober 2018. Pada kesempatan tersebut, dia mengecam pelaku pengeroyokan terhadap Ratna Sarumpaet.

Prabowo juga menyatakan akan meminta waktu bertemu Kapolri untuk membahas kasus tersebut. Pernyataan-pernyataan itu disampaikan usai bertemu Ratna dan meminta keterangannya.

Sehari berselang, giliran Ratna mengadakan jumpa pers di kediamannya, Jakarta. Dia menyampaikan, kabar penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong.

Ratna turut menyampaikan, kebohongan tersebut karangannya sendiri. Karenanya, Ratna menyampaikan permohonan maaf kepada Prabowo dan senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, karena telah membelanya.

Beberapa hari kemudian, Ratna Sarumpaet diamankan di Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Setelah diperiksa, Ratna lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kabar bohong telah dianiaya di Bandung, Jawa Barat.

 Menurut Syarif, lumrah bila Prabowo dan sejumlah pihak mengecam penganiayaan tersebut. "Itu murni respons kemanusiaan beliau untuk empati pada siapa pun yang teraniaya, bukan respons politik," katanya pula.

Dia menilai, pelaporan GNR ke Bawaslu menyangkut kasus ini dan mengadukan Prabowo, merupakan upaya relawan petahana untuk mendegradasi kekuatan dukungan penantang Joko Widodo (Jokowi).

"Dengan memanfaatkan dan menyudutkan Pak Prabowo terkait kasus Ratna," ujarnya.

GNR merupakan relawan pendukung Jokowi.

Bagi Syarif, kasus tersebut sudah selesai karena Ratna mengakui perbuatannya dan menjadi aktor utama kabar bohong itu.

 "Pak Prabowo sudah menyampaikan permintaan maaf terkait sikap dan empati beliau yang keliru," ujarnya lagi.

Dia melanjutkan, kasus tersebut pun tak ada kaitannya dengan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. Apalagi, kalimat yang disampaikan Prabowo tidak tendensius dan tergolong kampanye hitam terhadap petahana.

"Jangan baperlah (bawa perasaan)," kata Syarif pula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019, hoax

Sumber : Tempo
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top