Pemkot Palu Siapkan Hunian Sementara bagi Korban Gempa dan Tsunami

Pemerintah Kota Palu sedang menyiapkan pembangunan hunian sementara untuk korban gempa dan tsunami di wilayah itu. 
JIBI | 13 Oktober 2018 07:59 WIB
Warga mengamati area yang terdampak gempa di wilayah Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Kota Palu sedang menyiapkan pembangunan hunian sementara untuk korban gempa dan tsunami di wilayah itu. 

Saat ini, sudah ada 24 titik alternatif hunian sementara (huntara) yang didata.

“Sebanyak 24 titik itu nanti akan kami serahkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk dikaji ulang,” ujar Wali Kota Palu Hidayat seperti dilansir Tempo, Sabtu (13/10/2018).

Masih belum diketahui dengan pasti jumlah huntara yang akan dibangun karena pendataan hunian yang rusak ringan dan rusak berat masih berlangsung. Berdasarkan data sementara, terdapat 68.451 rumah yang rusak keseluruhan (ringan dan berat) karena gempa dan tsunami akhir bulan lalu.

Dia menerangkan anggaran serta desain huntara berasal dari pemerintah pusat. Warga akan tinggal di huntara selagi pemerintah menyiapkan hunian tetap. 

Saat berkunjung ke Palu, Jumat (12/10), Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah akan segera merealisasikan pembangunan huntara. Huntara diharapkan sudah berdiri dalam waktu 3-4 bulan ke depan.

Dalam kunjungan itu, JK didampingi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan CEO World Bank Kristalina Georgieva.

Adapun titik alternatif yang telah diajukan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu kepada pemerintah pusat yaitu:

1. Pantoloan Boya (Kecamatan Tawali) dengan daya tampung 150 keluarga.
2. Lambara (Kecamatan Tawali) dengan daya tampung 200 keluarga.
3. Baiya (Kecamatan Tawali) dengan daya tampung 150 keluarga di Stadion Mini Pasar Baiya dan 300 keluarga di jalan masuk KEK Palu.
4. Panau (Kecamatan Tawali) dengan daya tampung 150 keluarga di Lapangan Bina Surya dan 100 keluargadi Lapangan Pacuan Kuda Bamba.
5. Kayamalue Ngapa (Kecamatan Palu Utara) dengan daya tampung 300 keluarga.
6. Kayamalue Pajeko (Kecamatan Palu Utara) dengan daya tampung 100 keluarga.
7. Mamboro (Kecamatan Palu Utara) dengan daya tampung 100 keluarga.
8. Layan Indah (Kecamatan Mantikulore) dengan daya tampung 100 keluarga di depan kantor Lurah Layana Indah dan 2.000 keluarga di pertigaan Layana Mamboro.
9. Tondo (Kecamatan Mantikulore) dengan daya tampung 150 keluarga.
10. Talise (Kecamatan Mantikulore) dengan daya tampung 550 keluarga.
11. Talise Valangguni (Kecamatan Mantikulore) dengan daya tampung 150 keluarga.
12. Kawatuna (Kecamatan Mantikulore) dengan daya tampung 150 keluarga.
13. Petobo (Kecamatan Palu Selatan) dengan daya tampung 500 keluarga.
14. Birobuli Selatan (Kecamatan Palu Selatan) dengan daya tampung 150 keluarga.
15. Besusu Barat (Kecamatan Palu Utara) dengan daya tampung 200 keluarga.
16. Besusu Timur (Kecamatan Palu Utara) dengan daya tampung 70 keluarga.
17. Palupi (Kecamatan Tatanga) dengan daya tampung 100 keluarga.
18. Duyu (Kecamatan Tatanga) dengan daya tampung 300 keluarga.
19. Balaroa (Kecamatan Palu Barat) dengan daya tampung 300 keluarga.
20. Kabonena (Kecamatan Ulu Jadi) dengan daya tampung 100 keluarga.
21. Silae (Kecamatan Ulu Jadi) dengan daya tampung 200 keluarga.
22. Tipo (Kecamatan Ulu Jadi) dengan daya tampung 100 keluarga.
23. Buluri (Kecamatan Ulu Jadi) dengan daya tampung 100 keluarga.
24. Watusampu (Kecamatan Ulu Jadi) dengan daya tampung 100 keluarga.
 

Sumber : Tempo

Tag : Kementerian PUPR, Gempa Palu
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top