Annual Meeting IMF-World Bank 2018, Filipina Hadapi Tekanan Seperti RI

Seperti Indonesia, Filipina juga mengalami tekanan yang sama dari pasar global, mulai dari normalisasi suku bunga negara maju hingga depresiasi nilai tukar.
Hadijah Alaydrus | 11 Oktober 2018 23:25 WIB
Deputi Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Diwa Guinigundo - Manila Bulletin

Bisnis.com, NUSA DUA – Seperti Indonesia, Filipina juga mengalami tekanan yang sama dari pasar global, mulai dari normalisasi suku bunga negara maju hingga depresiasi nilai tukar.

Peso Filipina telah melemah 8,03% (ytd/year to date) hingga 10 Oktober 2018. Kondisi tersebut diikuti oleh gejolak inflasi di negara tersebut yang disebabkan oleh bencana taifun Ompong dan harga minyak global yang tinggi pada September lalu.

Tidak hanya itu, keduanya memiliki catatan defisit di dalam transaksi berjalannya akibat kegiatan pembangunan yang agresif.

Pada semester pertama tahun ini, defisit transaksi berjalan Filipina mencapai US$3,1 miliar atau 1,9% terhadap PDB. Sejumlah ekonom memperkirakan defisit tersebut akan melebar hingga akhir tahun ini.

Kondisi ini akhirnya memaksa bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin untuk mengurangi tekanan dari kondisi global serta internal.

Saat ditemui di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, Bangko Sentral ng Pilipinas Deputy Governor Diwa C. Guinigundo mengatakan apa yang terjadi di negaranya dan dialami pula oleh Indonesia lebih didominasi oleh faktor global, yakni tekanan dari dolar AS.

"Jadi, komunikasi sangat penting karena sebenarnya kami memiliki kondisi fundamental yang baik," papar Diwa pada Kamis (11/10/2018).

Terbukti, lanjutnya, dengan komunikasi yang baik, pasar dapat memahami kondisi yang sebenarnya dari negara jiran tersebut.

Lebih lanjut, Bangko Sental ng Pilipinas tidak menutup kemungkinan untuk mengeluarkan kebijakan baru ke depannya. Namun untuk saat ini, dia menuturkan bank sentral telah banyak melakukan berbagai kebijakan dalam mengatasi tekanan global antara lain menaikkan suku bunganya 100 bps, menerapkan perlindungan risiko terhadap nilai tukar, serta menyediakan rediscounting facility baik dalam yen ataupun dolar AS sepanjang tahun ini. 

Ketika disinggung rencananya untuk menaikkan suku bunga pada November mendatang dalam rangka menghadapi kenaikan Fed Fund Rate pada Desember 2018, Diwa menuturkan pihaknya tidak bisa menyampaikan hal tersebut. Namun, Bangko Sentral ng Pilipinas tetap waspada dalam menopang pandangan kebijakan moneternya.

Tag : filipina, annual meetings IMF-World Bank
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top