KABAR GLOBAL 11 OKTOBER: Sinkronisasi Kebijakan Internasional Diperlukan, Gejolak Minyak Dunia Belum Usai

Berita perlunya sinkronisasi kebijakan internasional guna menghadapi ketidakpastian global serta gejolak harga minyak mentah menjadi sorotan media nasional hari ini, Kamis (11/10/2018).
Aprianto Cahyo Nugroho | 11 Oktober 2018 08:40 WIB
Anjungan minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Berita perlunya sinkronisasi kebijakan internasional guna menghadapi ketidakpastian global serta gejolak harga minyak mentah menjadi sorotan media nasional hari ini, Kamis (11/10/2018).

Berikut rincian topik utama di sejumlah media nasional:

Sinkronisasi Kebijakan Internasional Diperlukan. Sinkronisasi kebijakan ekonomi internasional dinilai penting dalam menghadapi ketidakpastian global serta mengantisipasi risiko siber bagi bank sentral. (Bisnis Indonesia)

Gejolak Minyak Dunia Belum Usai. Revisi mengenai proyeksi ekonomi global oleh International Monetary Fund menggoyang harga minyak dunia hingga terkoreksi tipis. Merski bergejolak, pasar optimistis harga kembali menguat seiring dengan munculnya bada Michael di AS yang berpotensi menahan 40% produksi. (Bisnis Indonesia)

Fleksibilitas Jadi Kunci Reformasi. Sejumlah kalangan sepakat bahwa Organisasi Dagang Dunia (WTO) perlu melakukan reformasi aturan dagang agar lebih fleksibel. (Bisnis Indonesia)

Potensi Capital Outflow di Emerging Market. Meningkatnya ketidakpastian global berisiko pada keluarnya investor asing dari pasar negara-negara berkembang (outflow). Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, ada 5% kemungkinan pasar negara berkembang selain China menghadapi outflow di pasar utang mencapai US$ 100 miliar dalam jangka menengah. (Kontan)

China Dituduh Manipulasi Hardware. Tuduhan terhadap China yang menyabotase perangkat keras bagi industri telekomunikasi Amerika Serikat (AS) terus bergulir. Meski Apple dan Amazon membantah, muncul sejumlah bukti baru yang menguatkan tuduhan tersebut. (Kontan)

Ekonomi Inggris Tumbuh 0,7%. Lonjakan ekonomi musim panas di Inggris ternyata lebih kuat dari perkiraan para analis. Ini karena cuaca panas mendorong belanja konsumen, meskipun ekonomi sepanjang bulan Agustus yang lemah mengisyaratkan pertumbuhan lebih lambat menjelang Brexit tahun depan. (Kontan)

Tag : kabar global
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top