Ingin Pacu Inovasi Perguruan TInggi, Jokowi Tegaskan Birokrasi Harus Dipangkas

Presiden Joko Widodo menyayangkan masih adanya iklim birokrasi yang panjang dalam pengurusan fakultas, jurusan, dan program studi di Indonesia. 
Amanda Kusumawardhani | 10 Oktober 2018 19:10 WIB
Peserta mengerjakan soal ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (16/5). - Antara/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menyayangkan masih adanya iklim birokrasi yang panjang dalam pengurusan fakultas, jurusan, dan program studi di Indonesia. 

"Saya enggak usah sebutkanlah namanya, Bapak Ibu semua tahu. Bapak Ibu lebih tahu dari saya, 40-50 tahun fakultasnya itu-itu saja. Dunia sudah berubah seperti ini dan sulit bangun fakultas dan program studi (prodi) baru. Enggak ngerti ini ekosistem di perguruan tinggi atau di kementerian atau dua-duanya," paparnya dalam Audiensi dengan Pejabat Eselon I, II, dan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri, dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti di Istana Negara, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Menurut Jokowi, tradisi semacam itu tidak memiliki korelasi positif dalam kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Jika birokrasi itu mempersulit, Kepala Negara bahkan berpendapat hal itu mesti segera dipangkas.

Birokrasi dipandang membuat sebagian tenaga pendidik atau dosen sibuk mengerjakan surat pertanggungjawaban (SPJ) hingga berlembar-lembar sehingga aktivitas belajar mengajar berpotensi terganggu dan lupa untuk berinovasi.

"Kita ini kelihatannya sibuk sekali, pagi sampai malam sibuk sekali. Ini apa toh? Saya cek-cek, Pak, baru ngurus SPJ. Sibuknya tidak inovasi. Urusan respons tadi urusan SPJ. Saya sudah berkali-kali sampaikan kepada kementerian terutama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pangkas itu," tegasnya.

Jokowi menambahkan rutinitas yang tidak produktif semacam itu harus segera dihilangkan jika Indonesia tidak ingin kehilangan daya saing dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Sebelumnya, Presiden mempertanyakan manajemen internal perguruan tinggi Indonesia setelah hanya 3 universitas negeri yang masuk daftar 500 besar dunia pada 2018. Padahal, dia menilai dunia sudah mengenal teknologi otomasi, Artificial Intelligence (AI), cryptocurrency, bitcoin, hingga mesin cetak 3D.

Jika hal-hal tersebut gagal direspons oleh perguruan tinggi di Indonesia, maka Indonesia diyakini bakal tertinggal jauh.

Adapun ketiga perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Indonesia (UI) yang berada di peringkat 292, Institut Teknologi Bandung (ITB) di posisi 359, dan Universitas Gajah Mada di ranking ke-391.

Tag : jokowi, perguruan tinggi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top