Menlu AS Bertolak ke Korut, Atur Pertemuan Kedua Trump-Kim

Menlu AS Michael Pompeo bertolak ke Korea Utara (Korut) pada Jumat (5/10/2018) untuk bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un dan membicarakan harapan AS kepada Korut terkait denuklirisasi.
Dwi Nicken Tari | 06 Oktober 2018 12:54 WIB
Trump dan Kim Jong-un dalam pertemuan Selasa (12/06) - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Menlu AS Michael Pompeo bertolak ke Korea Utara (Korut) pada Jumat (5/10/2018) untuk bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un dan membicarakan harapan AS kepada Korut terkait denuklirisasi.

Sejauh ini, Korut terus meminta agar AS menarik kembali sanksi-sanksi internasionalnya dan meminta diselenggarakannya KTT kedua dengan Presiden AS Donald Trump.

Untuk itu, dalam kunjungan Pompeo kali ini, Korut pun akan mencari celah dari AS untuk menerima permintaan Korut tersebut dan mengupayakan agar AS mau bekerja sama untuk mengakhiri Perang Korea. mencapai akhir yang formal untuk Perang Korea.

“Pompeo datang ke sana tidak akan berpengaruh. Angin telah hilang dari ‘tekanan maksimal’,” kata Vipin Narang, Profesor Ilmu Politik di Massachusetts Institute of Technology, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (6/10/2018).

Adapun dalam perjalanan kali ini, Trump telah menugaskan Pompeo untuk mengatur KTT kedua dengan Kim—sebuah pertemuan yang dapat memberikan ‘sensasi perdamaian’ kepada Trump menjelang Pemilu Kongres AS pada November.

Dalam perjalanan ke Jepang, Pompeo menyampaikan tujuan kedatangannya ke Korut adalah untuk “meyakinkan bahwa kami mengerti, bahwa kedua belah pihak telah saling berusaha,” atau komentar yang memberikan sinyal bahwa kedua negara masih jauh dari detail perundingan.

Pompeo mengatakan bahwa dia berharap untuk dapat mengembangkan beberapa opsi untuk waktu dan tempat untuk KTT antara dua pemimpin tersebut. Tapi, dia tidak menjanjikan bahwa hal itu dapat rampung dalam kunjungannya yang tidak lebih dari sehari di Pyongyang.

Di sisi lain, sementara AS tetap memberlakukan sanksi penuh untuk Korut, Menlu Korea Selatan Kang Kyung-wha mengumumkan bahwa pemerintahan Korsel mungkin akan mencari jalan untuk mengecualikan diri dari sanksi tersebut.

“Secara virtaul, semua perusahaan Korsel memiliki rencana investasi ke Korsel dan seuanya ingin masuk [ke Korut] secepatnya,” kata Kenneth Courtis, Direktur Starfort Investment Holdingsdan mantan Direktur Asia untuk Goldman Sachs Group Inc.

Tag : korea utara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top