Tata Ruang Palu dan Donggala Harus Perhatikan Potensi Bencana

Tata Ruang Palu dan Donggala Harus Perhatikan Potensi Bencana
Denis Riantiza Meilanova | 04 Oktober 2018 01:26 WIB
Suasana pemukiman yang rusak akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengusulkan agar proses rekontruksi wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah harus mempertimbangkan struktur geologi wilayah tersebut. Pasalnya, wilayah tersebut masuk jalur utama sesar Palu-Koro yang rawan bencana.

Selama ini, pihaknya telah secara rutin memberikan laporan terbaru soal kondisi pergerakan tanah kepada para kepala daerah. Dia berharap laporan tersebut bisa menjadi referensi daerah untuk menyusun RTRW dengan lebih baik.

"Pemda (pemerintah daerah) harus mendukung adanya penyesuaian kembali rancangan umum tata ruang atau RTRW itu," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (3/10/2018).

Penyesuaian kembali RTRW , tujuannya tidak lain untuk menghindari jatuhnya kerugian dan korban jiwa akibat menempati ruang yang memiliki potensi bencana.


Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengatakan sesuai aturan begitu ada gempa bumi, Badan Geologi akan langsung menurunkan tim lengkap kegempaan dalam rangka menganalisis wilayah untuk tujuan rehabilitasi dan rekonstruksi. Hasil dari analisis itu selanjutnya dijadikan rekomendasi untuk menentukan wilayah mana yang bisa direhabilitasi dan direkonstruksi.

Untuk kejadian bencana geologi di Sulawesi Tengah, Rudymengungkapkan bahwa rekomendasi Badan Geologi atas hasil pemetaan dampak kegempaan akan segera diterbitkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Rekomendasi akan keluar dalam tiga hari kedepan atau paling lama satu minggu. Tim Badan Geologi selain memastikan masih ada tremor atau tidak juga memetakan kembali wilayah yang terdampak liquefaction di Palu, karena ini yang menjadi masalah besar di Palu sehingga tim berkonsentrasi disana, mana-mana saja ada wilayah yang liquefaction kemudian termasuk run up tsunami juga dipetakan serta wilayah yang rentan longsor akibat gempa itu," kata Rudy.

Rekomendasi dari Badan Geologi menjadi rujukan bagi perencanaan tata ruang termasuk rehabilitasi dan renovasi paska terjadinya bencana geologi. Diharapkan rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi itu dapat dipatuhi, namun demikian, sekiranya terpaksa harus tetap dibangun di lokasi bekas bencana maka harus dilakukan sesuai persyaratan yang ada.

Untuk diketahui juga, Badan Geologi Kementerian ESDM secara periodik perbulan menerbitkan Peta Prakiraan Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gerakan Tanah Longsor. Di samping itu, setiap enam bulan menerbitkan Peta KRB kebencanaan secara keseluruhan. Rekomendasi tersebut selanjutnya dikirim secara resmi oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan kepada Gubernur-Gubernur di seluruh Indonesia.

Tag : Gempa Palu
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top