BMW Akan Pindahkan Pabrik Mini ke Belanda, Ini Pemicunya

Produsen mobil mewah asal Jerman, BMW, melihat potensi 50:50 bahwa Inggris akan meninggalkan Uni Eropa dengan tanpa kesepakatan (no deal Brexit).
Dwi Nicken Tari | 02 Oktober 2018 20:35 WIB
Logo BMW. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA—Produsen mobil mewah asal Jerman, BMW, melihat potensi 50:50 bahwa Inggris akan meninggalkan Uni Eropa dengan tanpa kesepakatan (no deal Brexit).

Untuk meminimalisir risiko, CEO BMW Harald Krueger menyampaikan bahwa perusahaannya akan memindahkan produksi Mini (produk brand BMW di Inggris) ke Belanda.

“Saya telah menyampaikan [kepada PM Inggris Theresa May dan Uni Eropa] bahwa jika terjadi hard Brexit, maka keduanya merupakan pihak yang kalah. Kami tidak akan dapat menjalankan kesepakatan dagang dan kami juga akan terpaksa membangun produksi di Belanda,” kata Krueger di acara Paris Motor Show, seperti dikutip Reuters, Selasa (2/10/2018).

Dia menambahkan bahwa hard Brexit, atau keluarnya Inggris yang disertai gejolak, bukanlah skenario utama yang dipersiapkan oleh perusahaan kendati kini kemungkinannya sama-sama besar dengan soft Brexit. 

Adapun sejauh ini BMW masih memproduksi sebagian besar Mini-nya di pabrik di Oxford, di selatan Inggris, dengan mengandalkan produk komponen yang diimpor komponen dari induk pabrik di Jerman.

Pabrik di Oxford saat ini memproduksi sekitar 60% dari 378.486 produk Mini pada tahun lalu.

Oleh karena itu, Krueger menambahkan, jika Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan pada 29 Maret 2018 maka status Oxford sebagai pusat hub ekspor global untuk produk Mini juga akan terguncang.

Ketika ditanya apakah hard Brexit akan menjadikan Belanda sebagai hub utama ekspor produk Mini untuk pasokan ke Uni Eropa, Krueger menjawab, “Ya.”

Adapun BMW perlahan-lahan telah mulai mendekati VDL Nedcar yang berbasis di Belanda untuk dijadikan basis ekpor baru untuk produk Mini. 

Di VDL Nedcar sendiri, jumlah karyawannya telah melonjak menjadi 7.200, dari sekitar 4.500 pada tahun lalu dan 1.450 pada 2014.

Sementara itu, jumlah pekerja di pabrik BMW di Inggris masih relatif stabil dalam jangka waktu yang sama, yang saat ini pekerja yang merakit Mini di Oxford sebanyak 4.500 orang.

Namun, Krueger mengeluhkan bahwa penjualan di Inggris telah tertekan akibat ketidakpastian di masa depan.

BMW Group memperkirakan keberlanjutan penjualan di dua digit masih akan dikontribusikan oleh China pada Agustus dan September kendati eskalasi tensi geopolitik semakin tinggi antara China dan AS.

Sementara penjualan di Uni Eropa diperkirakan masih akan sulit karena permintaan telah dirusak oleh aturan standardisasi mobil di sana, yang dikenal dengan aturan WLTP, yang mengatur konsumsi bahan bakar suatu kendaraan.

“Penjualan di Eropa tidak didorong oleh permintaan pasar, tapi distorsi dari WLTP,,” kata Krueger.

Tag : bmw, Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top