Alasan Pemerintah Terima Bantuan Asing untuk Tanggap Darurat Gempa Palu-Lombok

Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan perbedaan penanganan tanggap darurat pascagempa bumi di Lombok dan Palu yang membuat pemerintah menerima bantuan asing untuk Palu.
Newswire | 02 Oktober 2018 18:43 WIB
Warga mengamati dampak kerusakan pascagempa di Kecamatan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan perbedaan penanganan tanggap darurat pascagempa bumi di Lombok dan Palu yang membuat pemerintah menerima bantuan asing untuk Palu.

"Ini (gempa Palu, red.) terjadi di perkotaan. Jadi di perkotaan itu berbeda dengan pedesaan, kalau di pedesaan seperti Lombok, di luar kota maksudnya, itu ekonomi tetap jalan karena tanaman masih ada, padi masih ada, tembakau masih ada, jadi tidak apa-apa," kata Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Ketika gempa bumi melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, kondisi perekonomian daerah saat itu masih berjalan karena secara teknis jaringan komunikasi, sarana pelabuhan, dan bandara masih berfungsi.

Bencana alam di Donggala, Palu dan beberapa area di Sulawesi Tengah, kata dia, membuat jaringan komunikasi dan listrik mati total, serta Bandara SIS Al-Jufrie mengalami kerusakan sehingga bantuan menjadi tersendat.

"Jadi kalau di Lombok kita masih bisa ke toko beli sesuatu. Ini (di Palu, red.) semua (toko, red.) tutup. Ini kenapa kelihatan panik di Palu? Karena listrik dan komunikasi tiba-tiba mati. Kalau satu juta orang tiba-tiba kehilangan 'handphone-nya', pasti panik," kata Jusuf Kalla.

Ketiadaan koneksi jaringan komunikasi dan listrik menyebabkan warga sekitar menjadi resah, karena tidak dapat berhubungan dengan daerah di luar Palu, ditambah kondisi daerah mencengangkan pascabencana.

Wapres mengatakan perbaikan jaringan komunikasi dan listrik untuk semua daerah terdampak bencana memerlukan waktu lama. Akibatnya, kata dia, penyaluran bantuan secara merata juga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

"Listrik itu butuh berminggu-minggu baru bisa menyala, karenanya dikasih genset untuk daerah-daerah tertentu. Begitu pula 'handphone', walaupun sudah menyala BTS-nya tetapi bagaimana 'men-charge' telepon kalau tidak ada listrik," katanya.

Untuk saat ini, Pemerintah mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi serta pencarian korban meninggal sekaligus pembersihan daerah bencana dari reruntuhan gempa bumi dan tsunami.

Sumber : Antara

Tag : Gempa Palu
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top