Duka Cita Trump untuk Indonesia: Tsunami Bencana Alam Terburuk

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan ungkapan duka citanya atas bencana gempa dan tsunami yang menghantam Indonesia.
Renat Sofie Andriani | 02 Oktober 2018 14:52 WIB
Kapal Sabuk Nusantra 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Kabar24.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan ungkapan duka citanya atas bencana gempa dan tsunami yang telah menghantam Indonesia.

Didampingi sejumlah jajaran pemerintahannya, Trump menyampaikan ucapan belasungkawa yang terdalam dalam suatu konferensi pers pada Senin (1/10/2018) waktu setempat.

“Mereka [Indonesia] telah dihantam tsunami besar, yang belum banyak dialami di belahan bumi lainnya,” ucap Trump, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (2/10/2018).   

Merujuk pada informasi salah satu temannya yang mempelajari bencana alam, Trump menyebut tsunami sebagai bencana alam terburuk, dibandingkan dengan tornado, badai, ataupun bencana alam lainnya.

“Tsunami adalah yang terburuk dan mereka telah terpukul olehnya, kemungkinan ada ribuan warga yang tewas,” tambah Trump.

Presiden ke-45 AS tersebut juga menyatakan telah memberikan respons langsung maupun bantuan termasuk bantuan militer.

“Namun, situasinya sangat, sangat buruk,” pungkas Trump.

Seperti diketahui, gempa berkekuatan 7,4 SR, yang kemudian disusul tsunami, telah memorakporandakan Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (28/9) sekitar pukul 18.02 WITA.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan tsunami setinggi 1,5 hingga 2 meter menghantam Palu setelah gempa terjadi. Berbagai bangunan hancur dan jalan retak akibat gempa dan tsunami ini.

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari ini, Selasa (2/10/2018), pukul 13.00 WIB, korban meninggal akibat gempa bumi dan tsunami Palu mencapai 1.234 orang.

Data korban meninggal tersebut tersebar di Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong, sedangkan untuk korban luka berat saat ini tercatat sebanyak 799 orang.

“Korban diperkirakan akan terus bertambah, karena evakuasi masih terus dilangsungkan,” ujar Kapusdatin dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di kantor BNPB, Jakarta.

Sejak kemarin sudah dilakukan pemakaman jenazah secara massal, dan hari ini akan dilanjutkan. Sementara itu, masih ada 99 orang hilang dan 152 orang masih tertimbun reruntuhan akibat guncangan gempa.

Hingga kini, penyebab pasti gempa bumi disusul tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya tersebut masih terus diselidiki.

Peneliti bidang Geofisika Kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi Nugroho Dwi Hananto menjelaskan bahwa ada kemungkinan sesar mendatar Palu Koro yang memiliki komponen deformasi vertikal di dasar laut memicu terjadinya tsunami.

“Kawasan Teluk Palu hingga Donggala juga mempunyai bentuk mirip kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat,” katanya di gedung LIPI, Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Nugroho juga mencatat kemungkinan lainnya adalah longsor bawah laut akibat tebing bawah laut runtuh akibat gempa.

 

Tag : tsunami, Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top