Bencana Melanda, Akankah Kampanye Pilpres Dihentikan Sementara?

Gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah dan gempa berikutnya yang baru saja terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta gempa yang dua bulan lalu menghantam Nusa Tenggara Timur (NTB) memunculkan wacana penghentian kampanye pemilihan presiden untuk sementara.
John Andhi Oktaveri | 02 Oktober 2018 13:36 WIB
Calon Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan capres Prabowo Subianto di sela-sela pengambilan undian nomor urut untuk Pilpres 2019, di kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah dan gempa berikutnya yang baru saja terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta gempa yang dua bulan lalu menghantam Nusa Tenggara Timur (NTB) memunculkan wacana penghentian kampanye pemilihan presiden untuk sementara.

Wakil Koordinator Bidang (Wakorbid) Pratama Partai Golkar, Bambang Soesatyo setuju dengan usul dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar kampanye pemilu dihentikan sementara. Pasalnya, masyarakat masih dirundung malang akibat serangkaian bencana alam tersebut setelah sebelumnnya gempa bumi terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Setuju, tapi di wilayah itu, di Palu, Donggala, dan sekitarnya yang daerahnya terkena bencana. Memang tidak tepatlah memanfaatkan bencana untuk melakukan kampanye," ujar Bamsoet.

Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah penanggulangan secara cepat dengan skala tindakan yang ditingkatkan.

Sebelumnya, SBY memberikan saran kepada elite politik di tengah bencana gempa bumi di Sulawesi Tengah. SBY mengimbau agar kampanye Pilpres 2019 dihentikan sementara.

"Marilah kita utamakan dulu bersatu padu kita membantu pemerintah, membantu saudara-saudara kita dan sementara saya kira kegiatan kampanye pemilu kita hentikan dulu," ujar SBY.

Sedangkan calon presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk tidak mengunjungi korban gempa bumi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah karena khawatir bisa merepotkan masyarakat setempat. Prabowo lebih memilih untuk menghindari kunjungan itu, namun lebih memilih mengarahkan mesin Partai Gerindra untuk membantu para korban yang terdampak bencana.

Dirinya khawatir, kedatangannya justru akan merepotkan dan bisa jadi justru dipolitisasi oleh sejumlah pihak.

"Dalam keadaan hari-hari pertama, yang penting tim penanganan, Basarnas, aparat yang harus leluasa. Kalau kami berkunjung malah merepotkan. Dan saya tidak mau dipolitisasi," ungkap Prabowo.

Sementara itu, politisi PDIP Eva Kusuma sundari mengharapkan Prabowo tetap membantu Presiden Joko Widodo meskipun memilih tak datang ke Palu dan Donggala.

“Salah satunya, dengan mendukung langkah-langkah Jokowi dalam menanggulangi bencana alam tersebut, katanya, Selasa (2/10/2018).

Sedangkan terkait dengan permintaan sejumlah pihak yang ingin gempa dan tsunami di Palu-Donggala itu ditetapkan sebagai bencana nasional, Eva menilai hal itu tak perlu diperdebatkan. Pasalnya, menurut dia, saat ini pun sudah banyak negara-negara luar yang ingin membantu Indonesia dalam mengatasi bencana tersebut.

Tag : Pilpres 2019
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top