Ternyata Tsunami di Teluk Lebih Berbahaya Dibanding Pesisir Terbuka. Begini Penjelasannya

Gempa 7,7 SR yang disusul tsunami di Sulawesi Tengah menjadi perhatian para ilmuwan terkait. Tsunami yang terjadi di Sulteng digolongkan sebagai tsunami teluk, dampaknya ternyata lebih berbahaya dari tsunmai pesisir.
JIBI | 02 Oktober 2018 09:49 WIB
Sejumlah kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). - ANTARA FOTO/BNPB/pras

Bisnis.com, JAKARTA - Gempa 7,7 SR yang disusul tsunami di Sulawesi Tengah menjadi perhatian para ilmuwan terkait. Tsunami yang terjadi di Sulteng digolongkan sebagai tsunami teluk, dampaknya ternyata lebih berbahaya dari tsunmai pesisir.

Menurut ahli dan peneliti tsunami dari Institut Teknologi Bandung Hamzah Latief tsunami di daerah teluk lebih berbahaya dibandingkan di kawasan pesisir terbuka. Bahaya itu terjadi jika tsunami tadi berasal dari sebuah gempa yang sama lokasi dan besarannya.

“Lebih besar gelombangnya yang masuk teluk, terakumulasi energinya,” ujarnya, Senin, 1 Oktober 2018 seperti ditulis Tempo.co.

Pada tsunami yang menuju pesisir terbuka, gelombang merambat ke kiri dan ke kanan atau tersebar. Sedangkan tsunami yang masuk ke teluk gelombangnya berkumpul dan jadi terjebak.

Selain itu, ada faktor yang bisa memperkuat gelombang tsunami, yaitu dinding teluk. “Kalau gelombang masuk kemudian sampai kepala teluk, terefleksi lagi gelombangnya, ketemu sama gelombang datang jadi semakin membesar,” ujar Hamzah.

Situasi itu bisa makin runyam saat disertai longsoran batuan sedimen di bawah laut. Kalau blok batuannya besar dan meluncur ke dasar, efek gelombang tsunami bisa membesar. Hamzah menduga tsunami yang menerjang Teluk Palu ikut dipengaruhi longsoran.

“Lokasi longsornya kita belum tahu, yang pasti di dalam teluknya. Kalau lihat rekaman video airnya kotor berarti dia ambrol di dalam teluk,” katanya.

Beberapa kasus tsunami yang menerjang teluk di Indonesia, kata Hamzah, seperti di Pulau Seram pada 1890-an sampai membuat kampungnya hilang. “Bukan disapu gelombang tapi longsor ke bawah, tenggelam,” ujarnya. Sementara tsunami di daerah pesisir terbuka misalnya di Maumere pada 1992.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringata Dini Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Daryono juga mengakui, tsunami di daerah teluk lebih berbahaya daripada di kawasan pesisir terbuka.

Mengutip keterangan laman BMKG, gempa pembangkit tsunami biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • lokasi sumber gempa terletak di laut
  • kedalaman pusat gempa relatif dangkal yaitu kurang dari 70 kilometer
  • gempanya bermagnitudo besar yaitu lebih dari 7,0
  • mekanisme penyesarannya adalah sesar naik (thrusting fault) dan sesar turun (normal fault).

“Kalau besaran gempanya kurang dari magnitudo lima, tidak cukup kuat membangkitkan tsunami,” kata Daryono.

Wilayah Berpotensi Tsunami

Potensi tsunami di Indonesia, menurut catatan BMKG, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Wilayahnya seperti bagian barat Pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta bagian timur Pulau Kalimantan.

Sumber : TEMPO.CO

Tag : gempa, Donggala, Gempa Palu
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top